"Semangat dan kesungguhanmu dalam mengerjakan sesuatu yang telah dijamin oleh Alloh (Rizqi-Dunia) beserta abaimu mengerjakan perintah-perintah Alloh itu tanda butanya mata hatimu".
Kamus Kata :
1. Ijtihad.
* Sungguh-sungguh, Semangat + Sungguh-sungguh, Nyerentheng, Mengarahkan segala daya upaya pada satu titik, Sangat fokus, Memfokuskan pada 1 titik. Memusatkan konsentrasi tenaga waktu dan pikiran (pada perkara Dunia).
* Ibarat, uang sudah ditaruh dompet, dompetnya dikunci dlm lemari, lemarinya dikunci dlm rumah, rumahnya dikunci dikasih pagar, pagarnya dikunci, masih dijaga satpam. Bersungguh-sungguh gimana agar hartanya itu tidak hilang, sampai sebegitunya.
* Nyerentheng (jawa) itu pokoknya kalo 1 ini belum beres-belum dapat, yang lain pending dulu, yang lain tinggal dulu. Pokoknya kalo belum dapat 50ribu, sholat tunda dulu, sedekah stop dulu. Sampai sebegitunya. *Ibaratnya begitu.
2. Maa Dhumina.
* Apa-apa yang sudah dijamin, apa-apa yang sudah ditanggung, apa-apa yang sudah diatur-dihandle.
Dalam hal ini adalah rizki yang menjadi tiang keberlangsungan kehidupan Manusia, semua sudah dijamin oleh Alloh.
✍️* Makna dijamin Alloh.
Alloh sudah menjamin-menanggung hal rizqi. Perihal rizki, Alloh perintah agar manusia tidak usah untuk memikirkan. Alloh tidak menuntutmu untuk memforsir tenaga waktu dan pikiranmu pada perihal rizqi, Kapan, Dimana, Seberapa, Seperti apa, Jadi apa dan Bagaimana realisasinya, semua sudah dijamin oleh Alloh.
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)". ~ Q.S Hud, Ayat 6.
"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".~ Q.S Al-Ankabut, Ayat 60.
3. Taqshiir.
* Pepheko, Ceroboh, Abai, Sengaja mengabaikan, Tidak memprioritaskan, Tidak menganggap penting, Cenderung meremehkan, Tidak memaksimalkan. Seharusnya bisa 10 tapi ga dilakukan, bukan karna udzur tapi karna ia menganggap bahwa 10 itu gak penting.
Dalam hal ini, ia abai pada perintah Alloh dan menganggap itu ga penting, akirnya dikerjakan kalau sempet aja-kalau mau aja (cenderung meremehkan).
4. Maa Thuliba.
* Apa-apa yang dituntut, diperintah, disuprih, diminta.
Dalam hal ini adalah Kewajiban peribadatan yang itu menjadi simbol bahwa kamu itu Hambanya Alloh (Tuntutan Kehambaan).
✍️* Tuntutan Kehambaan, Meliputi..
✅ Amaliah-Amaliah yang bisa menyampaikannya pada Akhirat.
✅ Mendekat pada Alloh dgn sarana-perantara mengerjakan berbagai ibadah dan menjalankan aturan Syari'at lainnya.
✍️* Makna kamu dituntut.
✅ Karna Amaliah dan mengerjakan aturan Alloh (aturan Syari'at) itu dipasrahkan padamu sebagai seorang Hamba, kamu yang harus mengerjakan dan kamu yang harus bersungguh-sungguh dalam pengerjaannya, karna nanti yang dapat nilai, yang dapat jaza', ya kamu sendiri (maka berlakulah sunnatulloh padamu atau sasaran Taklif).
✅ Bersungguh-sungguh beramal meliputi menjaga syarat-rukunnya, sebabnya, waktunya, yang bisa membatalkannya, dan lain sebagainya.
5. Inthimasil Bashiroh.
* Inthimash itu Blerok. Ibarat mata itu sakit katarak akut, sampai sama sekali tidak bisa melihat, penglihatannya seperti terhapus, Buta. Dalam hal ini adalah Butanya Mata Hati pada manusia tidak bisa memahami perintah Penciptanya.
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada".~ Q.S Al-Hajj, Ayat 46.
Inthimasil Bashiroh : Dalam hal ini yang buta itu mata hatinya.
* Kenapa dinamakan buta mata hati?
Ya, Hati yang waras (tidak buta/blerok) itu aslinya berisi kesadaran Al-Haq (kebenaran menurut Alloh), bisa membedakan yang sejati, mana yang primer mana yang sekunder, bisa membedakan mana yg sudah dijamin mana yg dituntut. Seharusnya begini koq malah begitu, salah hitung, salah memilih.
* Kenapa mata hati bisa buta?
Banyak sebabnya. In syaa Alloh akan diulas pada fasal yang menjelaskan "Hakikat Ndunyo". Atau kamu bisa muroja'ah pada Menu Kategori " Hakikat Ndunyo" pada sidebar blog ini.
Penjelasan Maqolah 005.
Kronologi.
* Setelah Menjelaskan runutan proses awal perjalanan seorang Murid-Salik dari Maqolah 1 sampai 4.
Maqolah 001.
Awali perjalanan muliamu dalam beramal dengan jangan bergantung pada Amal.
Maqolah 002.
Perjalanan suluk ini sebaiknya dalam posisi Asbab (berinteraksi atau mengambil suatu peran di tengah² masyarakat) kah atau Tajrid saja (lepas dari itu semua)?.
Maqolah 003.
Sikap bilamana melihat atau mengalami proses yang wajar atau tidak wajar, Yakinlah, bahwa itu semua sudah digariskan oleh Alloh.
Maqolah 004.
Janganlah ikut campur, protes, intervensi atau memberi usulan pada Alloh perihal rizqi dan alur kehidupanmu.
Lalu pada Maqolah 005 ini, Ibn 'Athoillah menegaskan lagi perihal sikap dan langkah seorang Murid-Salik dalam hal Asbab.
Maqolah 005.
Semangat dan ijtihadmu perihal mencari rizki yang sudah dijamin dan dihandle oleh Alloh, beserta abai dan kelakuanmu yang meremehkan pada tuntutan kewajiban peribadatan itu tanda butanya mata hatimu.
Inti Bahasan Maqolah 005.
Sudah diketahui, bahwa seorang Murid-Salik dalam menempuh perjalanan ruhaninya (atau katakanlah setiap orang pada umumnya) pasti bersinggungan dengan perihal rizki untuk keberlangsungan hidupnya. Entah itu dalam posisi Asbab ataupun posisi Tajrid.
Dalam pembahasan ini (Maqolah 005) dominan menyasar pada Murid-Salik yang posisi Asbab (posisi yang mau gak mau harus berinteraksi dengan orang lain-urusan lain dalam hal (mencari) rizki untuk keberlangsungan hidupnya. Atau menyasar pada orang umum yang dalam mencari rizkinya itu harus dengan jalan berinteraksi di tengah-tengah Masyarakat
Nah bagaimana seorang Murid-Salik menyikapi dalam hal Asbab tsb?.
* "Kalau orang Tajrid kan memang sudah sedari awal niat memasang diri untuk tidak memperhatikan perihal rizki".
Ditegaskan oleh Ibn Athoillah dalam Maqolah 005 ini, bilamana kamu (seorang Murid-Salik) ijtihad, bersungguh-sungguh, terlalu ngoyo sampai mengerahkan segenap daya upaya tenaga waktu dan pikiran pada suatu hal yang sudah dijamin Alloh, sampai-sampai kewajiban peribadatannya terganggu karna gak kebagian waktu, gak kebagian tenaga (peribadatan cuma diberi porsi kecil alias diremehkan), Maka sungguh, mata hatimu saat itu sedang buta.
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas". ~ Q.S Baqaroh, Ayat 212.
"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir". ~ Q.S Attaubah, Ayat 55.
Makna Butanya Mata Hati.
(Dalam hal ruhani), Asline hati kalo waras itu bisa..
* Membedakan mana yg primer, mana yg sekunder.
* Bisa membedakan mana yg Prioritas, mana yang cuma sepintas.
* Mana yg sudah dijamin Alloh, mana yg dituntut.
* Mata hati yang waras itu bisa jauh melihat akibat (aqibah) yang akan terjadi setelahnya (sampai konsekuensi atau akibat di Akhirat).
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". ~ Q.S Ar-Rum, Ayat 7.
** Sebagian Ahli Tafsir menafsiri ayat ini :
"Orang-orang kafir itu puinter-puinter pandai dalam ilmu-ilmu Dunia, tapi pafa Akhirat mereka Ghafil (gak tau).
* Mata hati yang waras itu bisa merasakan, bisa membedakan..
"Meski Dunia yang saat ini tampak indah dan sangat menyenangkannya, itu entah besok atau besoknya lagi pasti akan ia tinggalkan.
Kalau gak barangnya yang rusak atau ketinggalan zaman, ia yang akan rusak (mati). Kalau gak ia yang meninggalkan, pasti ia yang akan ditinggalkan.
* Sama-sama pasti akan berpisah, entah besok-entah kapan hamending sekarang saat ini sudah melatih diri. Jadi saat sudah tiba waktunya, gak kaget.
Jatah gaji-Aturan yang sudah dihandle dari seorang Bos yang Maha Dermawan, Maha mengatur, Yang Tidak pernah lupa, malah dipikir setengah mati. Sedang kewajibannya (tuntutannya-kerjaannya sebagai seorang karyawan) malah diabaikan, kerjanya ga sungguh-sungguh. Itu artine Makan Gaji Buta/Karyawan Bodoh.
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa".~ Q.S Thaha, Ayat 132.
Yang diperintah gak dikerjakan atau dikerjakan seenaknya. Yang tidak diperintah (sudah dijamin-sudah dihandle) malah diurusi-ikut campur. BODOH (bertindak bodoh-tidak semestinya).
"Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?".~ Q.S Yunus, Ayat 31.
Lalu siapa sebenarnya orang yang Buta Mata Hatinya?
Lihat Susunan Ayat berikut, Q.S An-Nahl Ayat 104 sampai 111.
Buta Mata Hati, Q.S An-Nahl, Ayat 108.
Pada ayat di atas, secara simbolik menyebutkan bahwa orang yang buta mata hatinya adalah orang yang lebih mementingkan kehidupan Duniawinya meninggalkan-melupakan Amaliah-Amaliah Akhirat.
Itu nanti kalau diterus-teruskan (tidak sadar) ditakutkan akan diCap oleh Alloh Buta Mata Hati (gak dapat Hidayah-akhirnya Mati tanpa membawa Iman). Naudzu Billah min Su'il Maqduur.
Hadist Nabi dan Dawuh Para Tokoh Tasawuf perihal Maqolah 005.
Attanbih Syarah Alhikam, Hal 176.
"Wahai Hambaku, patuhilah (kerjakanlah) apa yang aku perintahkan. Dan janganlah kamu mengajariku perihal apa yang terbaik untuk kehidupanmu".
~ Rowahu Addainuri, Al-Maliki R.A, Mujalasah wa Jawahirul Ilm, hal 1587.
Hadist Nabi S.A.W.
"Bagaimana keadaan (cara berfikir) para Kaum itu?! Mereka pada memuliakan dan menganggap mulia para orang kaya dan meremehkan serta menganggap remeh para Ahli ibadah. Mereka menjalankan ajaran Al-Quran cuma pada apa yang cocok dan menyenangkan Syahwatnya, sedang yang tidak menyenangkan Syahwatnya mereka meninggalkannya.
Saat seperti itu, mereka beriman pada sebagian ayat dan mengingkari sebagian lainnya. Mereka berusaha keras perihal jaminan (yang digratiskan Alloh dari Qada' Qadar, Ajal yang sudah digariskan, rizqi yang sudah ditakar), namun mereka tidak berusaha keras perihal tuntutan (sesuatu yang tidak bisa didapat kecuali dgn berusaha keras, dari pahala, amal ibadah dan amaliah akhirat)".
~ Al-Baihaqi - Syu'bul Iman, hal 1150. Hadist dari Abdulloh Ibn Mas'ud R.A.
Dawuh Ibrahim Al-Khowash R.A.
"(Praktek) Ilmu itu ada dalam 2 kalimat (2 Eksekusi).
1. Gausah ngoyo dengan apa yg sudah dijaminkan padamu.
2. Jangan menyia-nyiakan pada tuntutan (peran/tugas) yg diwajibkan padamu.
Kesimpulan.
✍️ Kata-Kata Mushonnif (Pengarang Kitab) dengan memakai kata "Ijtihad" (Berusaha keras, Ngoyo, Ngongso, sampai lupa waktu, peribadatan terganggu) itu TIDAK MEMBATALKAN orang yang mencari rizqi. Karna Mencari Rizqi itu sesuatu yang diperbolehkan-diizinkan oleh Alloh. MAKA mencari rizqi yang tidak sampai mengganggu aktivitas peribadatanmu-tidak melalaikanmu pada kewajiban peribadatan bukanlah termasuk "Buta Mata Hati".
✍️ Sebaliknya, Maqolah ini menyasar pada orang yang terlalu ngoyo mementingkan kehidupan duniawinya-pekerjaannya sampai kewajiban peribadatannya gak keurus, malah cenderung mengabaikan, menganggap gak penting alias GILA DUNIA.
✅ SIALNYA, Orang yang sudah kadung Gila Dunia ini seringkali sulit sekali untuk dinasehati, sulit untuk sadar-disadarkan.
✍️ Sampai sebagian Ulama berkata:
"Sesungguhnya Alloh itu sudah menanggung (rizki) Duniamu, dan merintah dirimu untuk mengurusi Akhiratmu.
Ibarat, Fasilitas Dunia ini semua untukmu, untuk sarana kebahagiaan Akhiratmu. TAPI sama orang-orang Gila Dunia itu dibalik.
Mereka menyangka, bahwa Nasib Bahagia dan Celaka di Akhirat itu sudah ditanggung oleh Alloh, Sedang Alloh itu (saat ini) menuntutmu-merintah kamu untuk mencari kebahagiaan Dunia".
"Kalo pingin hidup bahagia ya harus kaya, harus banyak uang, harus banyak bekerja, harus banyak waktu utk mencari uang. Soal ibadah-pahala itu sudah ditanggung Alloh".
~ Logika kebalik-balik bukan?
✍️ Bagaimana bisa kamu katakan orang itu waras-berakal bila belum bisa membedakan mana yang prioritas (Akhirat), mana yg sepintas (Dunia). Bisa membedakan mana yang abadi (Akhirat), mana yang sebentar dan mau rusak (Dunia). Dunia yang mau rusak atau mau ditinggalkan dipikir-dibangun setengah mati, Akhirat yang bakal Abadi malah dianggap cuma sebatas mimpi?".
** Kalau diibaratkan itu.."masak sih kamu beli barang yang kamu sudah tau sebentar lagi mau rusak atau mau kamu tinggalkan? dengan harga mahal pulak". Kalo memang jadi beli, berarti kang memang orangnya yang ga beres, bocah longor 😀.