Maqolah 002, At-Tanbiih Syarah Hikam. Bab Asbab Dan Tajrid.
Terjemah Maqolah 002.
"Keinginanmu untuk memasuki posisi TAJRID sedang Alloh memposisikanmu pada kondisi ASBAB itu sebenarnya keinginan kesenangan syahwatmu belaka (syahwat yang samar).
Sedang keinginanmu memasuki posisi ASBAB sedang Alloh memposisikanmu pada kondisi TAJRID itu sebenarnya menurunkan kelasmu dari Tujuan Mulia yang sebenarnya (Taqarub ilalloh adalah tujuan mulia)".
Kamus Kata :
1. Iqomah.
Alloh memposisikan, mengkondisikan atau menggiring seseorang pada suatu posisi kondisi atau situasi tertentu.
Dan posisi kondisi atau situasi itu memang sudah semestinya dan seharusnya (cocok sesuai aturan dan memang pasnya seperti itu).
* Pemimpin harus adil, pedagang harus jujur, jadi orang jangan tamak, orang sholat yang diingat hanya Alloh saja.
~ Ya memang aturan pasnya harus seperti itu. Kalau belum pas, berarti belum dinamakan iqomah atau belum sampai level iqomah.
2. Tajrid.
Suatu keadaan posisi kondisi atau situasi yang mau tidak mau menuntut kamu jadi lepas-melepas atau terlepas dari sebab-akibat, interaksi dengan makhluk atau lepas sama-sekali tidak mengambil suatu peran di tengah-tengah masyarakat.
* Tajrid secara umum yaitu posisi kondisi atau situasi orang yang rizqinya itu mengandalkan dari Alloh (rizqi yang medatanginya) alias "rizqine ngenteni tetese embun".
✍️ Tajrid Ada 3 Kelompok.
Menurut sebagian Ahli Tasawuf Tajrid itu ada 3 kelompok :
1. Tajrid lahirnya saja.
* Meninggalkan semua aktifitas lahiriah (perihal rizqi) yang dapat mengganggu/menyibukkannya dari beribadah.
2. Tajrid Bathinnya saja.
* Meninggalkan letupan-letupan nafsu, prasangka, analisa, rancangan dan rencana yang dapat mengganggu konsentrasinya untuk selalu berakhlak dengan sifat² Alloh.
3. Tajrid Lahir Bathin bersamaan.
* Secara lahir ia memang tajrid. Secara bathinnya juga dijaga.
📚 ~~Intaha Iqadzul Himam, Hal 28.
3. Asbab.
Suatu keadaan posisi kondisi atau situasi yang mau tidak mau menuntut kamu harus bergelut dengan sebab-akibat, harus berinteraksi dengan makhluk atau harus mengambil suatu peran di tengah-tengah masyarakat (Syuhada' 'alan nas).
* Asbab secara umum yaitu posisi kondisi atau situasi orang yang rizqinya harus bergelut dengan interaksi sebab-akibat (bekerja-berusaha dengan segala rumit-rumitnya).
4. Syahwat Khofiyyah.
"Syahwat yang samar" Suatu motivasi pendorong yang sekilas terlihat berangkat dari dasar yang benar (Ibadah-Lillah) tapi sebenarnya motivasi pendorongnya itu dari syahwat kesenangannya belaka.
* Syahwat yang menyelinap masuk nebeng pada sebuah keniatan-amaliah, akirnya keniatan itu rusak atau salah niat. Sepertinya tampak tujuan mulia tapi ternyata cuma atas dasar kesenangan belaka. Persis seperti virus.
✍️* Syahwat Khofiyyah secara umum adalah orientasi-orientasi yang bukan pada AKHIRAT atau bukan orientasi Taqarub illalloh.
Contoh Syahwat Khofiyyah (kepinginan nafsu yang terselubung) :
✅ Ingin menghindar lepas tanggung-jawab dari tugas-peran di tengah masyarakat.
✅ Ingin kepenak karna lepas dari tugas-bekerja-mengatur rumah tangga-Mengajar siswa-membimbing masyarakat.
✅ Atau ingin menggunakan maqam tajrid (menyendiri) untuk mencari karomah atau tujuan tertentu selain Taqarub, seperti :
✅ Menggunakan nama Tajrid itu untuk cari nama ditengah masyarakat (biar dapat julukan Kyai Zuhud - Kyai Spritualis, misale), akire banyak orang yang sowan kerumahnya.
✅ Atau suatu orientasi yang ujung-ujungnya itu ngepenakno awak, sebuah kebanggaan atau urusan perut dan bawah perut (Duet-Ndunyo).
✍️* Secara umum, mengidentifikasi-mendeteksi (VIRUS) Syahwat Khofiyyah ini kalo gak seorang guru yang ahli dibidangnya atau orang yang menekuni masalah hati (Ahli Bathin), sulit sekali.
5. Inhithoth.
Turun kelas, turun derajat, turun maqam spritual, turun level, turun atau menurunkan nilai atau value.
"Yang seharusnya, ibarat sekolah, Tajrid itu sudah masuk kelas kuliah intens-private khusus berdua dengan Dosen, lahkoq malah pingin kelas umum (karna banyak temannya), Turun kelas.
6. Himmah Aliyyah.
"Tujuan mulia atau cita-cita luhur"
Sebuah semangat motivasi rancangan atau cita-cita untuk sebuah tujuan, yang tujuan itu orientasinya (bisa cepat) menyampaikannya pada Akhirat atau kedekatan pada Alloh.
Dalam hal ini, akhirnya Himmah terpecah menjadi 2 bagian :
** Himmah Aliyyah (Tujuan Mulia) bila yang dituju oleh pusat konsentrasinya itu perkara2 mulia (kepentingan dan agenda-agenda Akhirat).
** Himmah Rodiiah (Tujuan Rendah) bila yang dituju oleh pusat konstrasinya itu cuma kepentingan dan kesenengan2 Duniawi.
✍️* Himmah Aliyyah lebih lanjut bisa dibaca disini.
Penjelasan Maqolah 002.
Setelah Ibn Athoillah R.A memberi bekal dan membuat pagar batasan pada Maqolah 001 bagi para Murid-Salik dalam memulai segala amaliah dalam perjalanan suluknya, bahwa "Sebagian tanda bergantung pada amal yaitu berkurang harapan-roja'nya pada Alloh saat menemui sebuah kesalahan", maka pada Maqolah 002 ini Ibn Athoillah memberi bekal-membuat pagar batasan pada posisi kondisi dan situasi seorang Murid-Salik "Di mana posisi sulukmu yang seharusnya", lalu "langkah apa yang harus dikerjakan pada posisi itu".
Karna seorang Murid-Salik dalam menempuh perjalanan suluknya itu pasti kena 2 posisi. Posisi kondisi dan situasi harus Asbab kah atau bertajrid saja?
‼️ PERLU DIKETAHUI, Dalam Maqolah 002 ini sasaran pembahasannya itu hanya pada Murid-Salik (orang yang memang sudah niat memasang diri ingin taqarub sejalan-seirama dengan kehendak Alloh), "Yang bukan Murid-Salik tidak masuk dalam pembahasan ini alias bebas memilih".
Sudah diketahui, bahwa seorang Murid-Salik dalam menempuh perjalanan suluknya ia harus selalu bersama Alloh, selalu dilatih berjalan seirama atas kehendak Alloh di segala posisi kondisi dan situasi yang dialaminya saat itu.
Lalu apakah si Murid-Salik dalam perjalanan suluknya ini harus bekerja-berinteraksi dengan orang dan atau mengambil peran di tengah-tengah masyarakat kah (ASBAB), ataukah harus melepaskan itu semua (TAJRID)?.
Karena posisi kondisi dan situasi kedua-duanya (ASBAB maupun TAJRID) ini menuntut konsekuensi sikap dan adab yang harus ditunaikan oleh si Murid-Salik.
Posisi Asbab juga punya tuntutan kewajiban dan adab yang harus ditunaikan si Murid-Salik.
Begitu juga Posisi Tajrid juga ada tuntutan kewajiban dan adab yang harus ditunaikan si Murid-Salik.
Posisi Asbab tidak lebih rekoso,
Posisi Tajrid juga tidak lebih kepenak. Alias podo rekosone.
Maka saat Alloh memposisikanmu pada posisi kondisi dan situasi ASBAB, kok kamu malah pingin TAJRID, berarti kamu tidak sejalan-seirama dengan kehendak Alloh alias kepinginanmu itu ternyata ada Syahwat samar yang terselubung nebeng pada keniatan.
Kenapa dinamakan Syahwat?
Karena seorang murid-salik saat itu tidak menempati posisi yang sudah dipilihkan Alloh padanya, alias sak karepe dewe.
Kenapa dinamakan Khofiyyah (Samar)?
Karena si Murid-Salik dengan keinginannya itu sebenarnya bukan untuk taqarub, tapi ternyata ada tujuan lain yang nebeng menyelinap pada taqarubnya itu sendiri, seperti yang sudah dijelaskan di atas.
Ia menyangka bahwa Tajrid itu posisi mulia (menurut prasangkanya saja), tapi secara tidak sadar ia telah melepaskan posisi yang sebelumnya (Asbab), ini berarti si murid tidak punya adab pada Alloh karna keluar dari posisi tanpa izin. Selain itu ia juga kepingin posisi mulia yang sebenarnya saat itu ia belum/tidak patut untuk Tajrid.
Sebaliknya, saat Alloh memposisikanmu pada posisi kondisi dan situasi harus TAJRID kok kamu malah pingin ASBAB, maka itu juga tidak sejalan-seirama dengan kehendak Alloh, namun justru malah menurunkan nilai spritualmu.
Karna Tajrid yang ia masuki berdasar kepinginannya sendiri, akhirnya saat nanti dalam tajrid menemui kendala-rekoso, akhirnya mbalik ke Asbab lagi, inilah yang dinamakan TURUN DERAJAT.
Artinya : Seorang Murid Asbab bisa masuk ke arena Tajrid, Tapi saat sudah memasuki arena Tajrid atau orang yang sudah bertajrid maka TIDAK DIPERBOLEHKAN TURUN KE ASBAB.
Untuk hal memilih suatu posisi dalam hal Asbab dan Tajrid, Al-Qur'an dan Hadist Nabi memberi tuntunan :
"Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong".
~ Q.S Al-Isra', Ayat 80.
Doa Nabi :
اللهم إني أستخيرك بعلمك، وأستقدرك بقدرتك ، وأسئلك من فضلك العظيم .
~ Hadist riwayat Bukhori 6382, dari hadist sayyidina Jabir R.A.
Lalu bagaimana cara mengetahui, baiknya ini harus berperan pada posisi ASBAB kah atau TAJRID saja?.
‼️ Bila kamu punya Guru, maka hendaknya minta panduan dan ikuti gurumu saja. Bila tidak punya guru, maka hendaknya mencermati tanda qorinah atau isyaroh-isyaroh Alloh dalam hal Asbab maupun Tajrid.
Tanda kamu Diposisikan Asbab.
1. Kamu ditempatkan, diposisikan, dikondisikan pada suatu peran/aktivitas/pekerjaan, yang pekerjaan itu nyatanya tidak bisa kalau kamu tidak ikut turun tangan, permasalahan kebutuhan rumah tangga nyatanya belum bisa kalau kamu gak ikut andil, dan nyatanya fine-fine aja (ibadahmu juga tidak terganggu).
2. Secara untungnya/hasil kerjamu juga bisa menutup kebutuhanmu (meski mungkin masih pas-pasan, tapi nyatanya kebutuhan, utang² bisa ketutup),
3. Secara kehormatan dan harga diri kamu tidak sampai ngemis atau minta2 ke orang,
4. Secara rasa bathin bikin kamu tidak iri-dengki atau tamak pada kepunyaan orang lain (ya karna punya tabungan-punya peran sendiri),
5. Secara peribadatan juga sama-sekali tidak terganggu.
* Sholatnya tertib, sedikit2 masih bisa sedekah, bisa mbantu orang orang2 fakir, zakat puasanya juga lancar, keluarganya juga terjaga, keniatannya dalam bekerja-berinteraksi-menjalankan tugas peran juga terjaga, kemanfaatan2 hasil uangnya bisa terselenggara dengan baik, malah masih bisa meluangkan ngaji atau ikut pengajian, misale..
Oo..berarti pasnya kamu di posisi ASBAB saja.
Tanda Kamu Diposisikan Tajrid.
1. Kamu ditempatkan, diposisikan, dikondisikan, digiring, dipojokkan pada suatu keadaan yang mau tidak mau kamu harus meninggalkan peran-interaksi di tengah-tengah masyarakat dalam hal rizqimu. Dan nyatanya hal itu terus-menerus tidak bisa kamu hindari.
Entah kekuatanmu dicabut (wis tuo atau sakit), Rencana-usaha yang kamu rancang selalu gagal, atau entah kamu akhirnya ditinggal orang-orang (entah difitnah-akirnya dipenjara, misalnya), hingga akhirnya kamu harus menyerah dan akirnya sendiri-menyendiri menekuni taqarub pada Alloh,
2. Secara kebutuhan rizqi lahir, nyatanya rizki-kebutuhanmu datang padamu (meski masih pas-pasan, cukup-cukupan).
3. Selain itu, karna kamu menyerah dan taqarub akirnya waktu menyendirimu itu malah jadi berkualitas (Konsentrasi ibadahmu, tawwakalmu, keyakinanmu tidak terganggu dan malah cenderung bertambah, bisa lebih intens dalam ibadah).
4. Secara hati, Karna menyerah dan taqarub hingga akirnya hatimu jadi bersih (hatimu jadi mau menerima, bisa sabar, bisa syukur, tidak iri-dengki, tidak tamak melihat "wong-wong Ndunyo",
5. Hingga akhirnya, kamu menemukan "istirahat dalam taqarub", istirahat terbebas dari kesibukan dan rumit-rumitnya Asbab yang sering bikin konsentrasi taqarub pecah.
Nah perihal baiknya memilih pekerjaan sepert apa dan bagaimana (Bagi Orang Asbab). Dan orang yang sedang Tajrid itu harus ngapain aja, akan dijelaskan lebih lanjut pada Maqolah 186.
Kenapa ASBAB dan TAJRID itu harus menunggu qorinah isyarat atau tanda dari Alloh (atau mungkin perintah Sang Guru/Mursyid *bila punya), Ibn Atho'ilah menjelaskan...
ALASANNYA,
Karena seringkali Syetan-Iblis itu menggoda-menghasut agar supaya si Murid-Salik itu keluar dari posisi yang dipilihkan oleh Alloh, yang artinya si Murid-Salik tidak lagi sejalan-seirama dengan kehendak Alloh, padahal sudah dijelaskan di atas, bahwa si Murid-Salik itu selalu dilatih secara intens utk sejalan-seirama dengan kehendak Alloh sampai harus sejalan dalam hal memilih "Harus Asbab-Bekerja atau Tajrid saja*.
Adab Aturan Dalam Asbab - Tajrid :
Seperti yang telah disebutkan di awal penjelasan, bahwasannya antara seorang Asbab atau Tajrid itu "podo rekosone", tidak asal menjalani posisi terus dilabeli sedang Asbab atau Tajrid, akan tetapi ada Adab yang harus dijalani dan ada ketentuan (yang mengatur proses Asbab atau Tajrid) yang harus ditunaikan oleh seorang yang sedang menjalani Asbab atau Tajrid. Bukan koq los-losan ga ada adab dan aturannya, alias podo rekosone.
Apa saja Adab dan Aturannya?
Banyak sekali, di antaranya..
Adab Orang Yang Posisi Asbab.
1. Selalu berusaha mepet-mepet (berada dalam sirkel) Groupnya para Abrar.
2. Selalu berusaha menjauh-menjauhi para Fujjar (tukang maksiat, orang yang selalu berbuat dosa-durhaka, pengecut-pengecut agama, orang2 yang ngeyel pada kebenaran dan pemahaman2 Akhirat), tapi ya bukan sambil "ngedumel atau sampai ngamuk-ngamuk"
" Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk".
~ Q.S Al-Qashash, Ayat 55-56.
3. Selalu berusaha menempatkan Sholat dalam berjamaah.
4. Selalu berbuat kelapangan bagi para Faqir Miskin.
5. Termasuk juga selalu tenang-sabar dalam menjalani Asbab dengan segala rumit-rumitnya, sampai Alloh sendiri yang akan memindah posisinya (Lewat petunjuk guru, bila ada. Atau dengan datangnya qorinah kuat suatu keterpaksaan yang mau gak mau harus pindah posisi, seperti penjelasan di awal tadi).
Adab Orang Yang Posisi Tajrid.
1. Selalu hormat-khidmat pada Senior-Seniornya (dalam hal Persulukan), Hurmat pada tokoh-tokoh tasawuf, Selalu hurmat pada para Guru, Para Abrar.
2. Selalu welas pada para Junior-Juniornya, welas pada para murid-para Muslimin yang masih tipis-tipis imannya.
3. Selalu berpegang pada kejujuran-keadilan dalam lahir bathinnya (ngamale jujur lillah billah)
4. Tidak memberi toleransi pada Nafsu-Bathinnya yang tidak jujur.
Adapun Adab-Adab lain bagi orang menjalani proses Tajrid akan dibahas lebih lanjut pada Maqolah 196.
Godaan Pada Posisi Asbab - Tajrid.
Bagaimana cara Syetan menggoda-menghasut - memberi rasa was-was agar si Murid-Salik ini meninggalkan posisi Asbab atau Tajridnya?
Saat ketika Syetan masuk pada si Asbab, Syetan akan menghasut dengan gaya bak seorang penasehat, seperti halnya yang dilakukannya pada Nabi Adam A.S.
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua".
~ Q.S Al-Baqoroh, Ayat 20-21.
Syaitan akan menghasut menjelek-jelekkan Asbabmu, agar konsentrasimu pecah, hingga kamu meninggalkan posisi Asbab yg dipilihkan Alloh padamu.
"Andai saja kalau kamu mau tajrid, pasti kamu lebih mulia, lebih terhormat. Dapat karomah, dapat ilham, hatimu tambah bersih bening, hingga nanti kamu akan dihormati banyak orang, hingga akirnya rizqi kamu nanti bakal lancar.
Lihatlah itu Si Fulan Si Anuanu, ia jadi terhormat, banyak pengikut, disegani masyarakat, rezekinya lancar jaya.
Percaya deh...Hehehe.
Begitu juga, Syetan juga datang menghasut pada orang yang sedang bertajrid :
"Sampai kapan kamu tidak bekerja?! Bukankah tajrid seperti ini kamu malah memutus jalan rizqinya orang banyak, yang asalnya rizqi itu bisa melalui perantaramu, akirnya sekarang malah mereka yang jadi perantara rizqimu. Bukankah tajrid seperti malah bikin orang jadi Tamak?".
Padahal si Murid-Salik ini sudah mapan Tajridnya, sudah nerima, tawwakalnya sudah oke, Karna kena hasutan Syetan akhirnya ia malah turun kelas.
Apa Efek Pindah Posisi Tanpa Izin?
Biasane tambah peyok, gak karu-karuan, alur hidup yang sudah tertata rapi jadi kocar-kacir alias tambah ngedown..
✍️ Dari sisi ekonominya-rizqinya.
* Asalnya sudah bener dapat 7, karna ia ga nerima ambisi dan pingin 10, akirnya malah jadi zonk jadi 3. Entah rugi, entah tambah semprawut, peribadatan jadi kocar-kacir, dlsb.
✍️ Dari sisi amaliah peribadatannya.
* Asalnya sudah bener dapat 5, meski masih pas-pasan tapi nyatanya kebutuhan tercukupi, keluarga tenang, waktu peribadatan gak terganggu, sedikit-sedikit masih bisa bersedekah, bisa ngeluangkan waktu ngaji, tapi karna ia pindah posisi tanpa izin, akirnya semua itu malah kocar-kacir.
Seperti ayat berikut :
Posisi Tajrid pindah ke Asbab tanpa izin. Q.S Baqoroh, Ayat 243.
✍️ Aslinya dikasih sakit-wabah itu harus tenang menjaga, sabar dulu dirumah (Tajrid, sabar, banyakin ibadah, tafakur, tambah keyakinan dan banyak pahala peribadatan yang bisa dijalani pada posisi ini, Lahkok malah pindah, akirnya ya mati juga, tapi kan pahala-peribadatan (termasuk gak nerima takdir) jadi zonk. Nasib akir zonk, ibadah zonk akirnya Double Zonk.
Kenapa pindah tanpa izin?
Ya karna ia gak yakin akan pengaturan jaminannya Alloh, dikompori Syetan.
Langkah Yang Harus Diambil :
Sebaiknya dan sudah semestinya si Murid-Salik ini selalu tenang-teguh-istiqomah dalam menjalani posisinya saat ini (ASBAB atau TAJRID), SAMPAI pada akhirnya Alloh sendirilah yang akan memindahkan posisi tersebut (Melalui izin seorang Guru, bila ada. Atau ada qorinah kuat-keterpaksaan yang menuntut dia mau tidak mau harus berpindah posisi. * Seperti yang sudah dijelaskan di awal tadi.
Hendaknya si Murid-Salik selalu berdoa, selalu minta pertolongan dan penjagaan pada Alloh supaya selalu dibantu dalam menjalani posisi peran yang dipilihkanNYA.
Selalu gunakan fasilitas Istikhoroh dan selalu berdoa seperti di awal tadi.
Kesimpulannya:
Entah memasuki posisi Asbab atau Tajrid, keduanya itu yang milihkan Alloh BUKAN kamu yang memilih. Berpindah posisi juga boleh, namun harus dengan izin, lewat petunjuk seorang Guru Kamil (bila ada), atau lewat qorinah, isyaroh, petunjuk kuat yang menuntut kamu mau gak mau (wajib) pindah posisi (kalau gak pindah bisa rusak semuanya Rusak rizqinya, badannya, keluarganya, umatnya atau malah agama dan keyakinannya atau yang biasa disebut DARURAT PINDAH), Biasanya bentuk isyarohnya adalah berupa keterpaksaan (dipaksa oleh Alloh lewat kenyataan pada seorang itu yang mau gak mau harus ia dihadapi).