Maqolah 001 - Mulailah Amalmu Dengan Jangan Bergantung Pada Amalmu

BlogAuthor
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Maqolah 001 Alhikam- Jangan Bergantung Pada Amal
Maqolah 001, At-Tanbiih Syarah AlHikam.  

Terjemah Maqolah 001 : 

Sebagian tanda seseorang itu bergantung-bersandar pada amalnya yaitu berkurang harapannya saat menemukan kegagalan (tidak sesuai ekpektasi keinginannya).

Kamus Kata :

1. I'timad.

Bergantung, tempat bertumpu, berpijak, mengandalkan, bersandar, merasa punya andalan potensi lain (selain Alloh) yang potensi lain itu diharapkan punya potensi atau dijadikan andalan.
"Punya kecondongan atau punya kecenderungan jagan-jagan pada selain Alloh sudah dianggap 'itimad"
~ Iqadzul Himam, Hal 23.

✍️* Tanda paling gampang untuk mendeteksi 'itimad (dalam hal ini) yaitu, bila seorang itu mengandai-andai. Bilang (Sakjane *jawa).

🗣️ "Andai saja begini ya, terjadinya begitu". Atau,
"Andai saja begitu ya, terjadinya pasti begini".
✍️ Itu jelas sekali tanda bahwa seorang itu asalnya 'itimad pada amal-usahanya. Karna kalimat "andai atau sakjane" yang berarti sesuatu yang sedang atau tidak terjadi.
* Mengharap pada suatu yang bukan bagiannya.

Atau orang yang cemas, khawatir, cepat panik. Itu jelas sebagai bukti bahwa ia menggantungkan maksud tujuannya ( harapannya) pada selain Alloh.

2. Amal.

Suatu amaliah, suatu aktivitas, suatu usaha, suatu rancangan, suatu rencana, suatu prediksi, atau hasil dari itu semua (sesuatu efek yang muncul dari itu semua).
* Entah berupa aktivitas lahir atau bathin. Bila aktivitasnya sesuai dgn syariat dinamakan taat. Bila tidak sesuai syariat dinamakan maksiat.

3. Roja'.

Harapan hanya pada Alloh, optimisme tapi hanya pada Alloh , rasa percaya (BUKAN percaya diri tapi rasa percaya hanya pada kekuasaan pengaturan dan qudrah irodahnya Alloh).

✍️* Harus difahami perbedaannya‼️
- Optimisme - Tamak Ambisi.
Optimisme-rasa percaya pada kekuatan potensi diri sendiri itu namanya TAKABUR, Akirnya ia mengamalkan suatu amal (berusaha) dengan membawa sebuah KETAMAKAN, akirnya semangat motivasi beramalnya itu jadi AMBISI-EGO, bila amalnya berhasil jadi KESOMBONGAN, bila gagal jadi PUTUS ASA.
** Tamak-Ambisi itu arahnya lalai pada kekuasaan dan takdirnya Alloh.
** Orang korupsi, orang maling, orang ingin merampas, orang berdusta itu juga (roja') optimis pada dirinya sendiri (PD) supaya perbuatannya bisa lancar.

- Optimisme-Roja'.
Sedang Optimisme-rasa percaya pada kekuatan pengaturan dan qudrah irodahnya Alloh itu namanya TAWWAKAL, Akirnya ia melakukan suatu amal dengan membawa pendorong ROJA' (Berharap hanya pada Alloh), Akirnya semangat motivasi beramalnya itu jadi HIMMAH ALIYYAH (tujuan mulia-kebaikan), bila amalnya berhasil jadi RASA SYUKUR, bila gagal jadi TAWWAKAL dan  ROJA' lagi.
** Orang mau berbuat baik, penceramah, pendakwah, orang kena musibah itu juga membawa Roja-optimis supaya pekerjaannya lancar-musibahnya diringankan.
** Berangkat dari suatu kebaikan-taat dan optimis bahwa Alloh akan selalu membantunya.

✍️* Jadi praktek Optimisme-Roja' dan Optimisme-Ambisi itu Beda Jauh.

✍️* Bab Roja' akan dibahas pada babnya tersendiri.

4. Nuqsonu Roja'.

Berkurangnya harapan, putus asa, akirnya semangat mengendur, malas, kecewa, penyesalan, merasa gagal, mengeluh, sombat-sambat, mengungkit-ungkit, iri-dengki, playing victim, berhenti atau putus harapan, sampai akirnya paling fatal jadi kufur nikmat.

5. Inda wujudi Zalal.

Saat menemui suatu kegagalan, dosa- kesalahan, salah prediksi, tidak sesuai rencana, tidak sesuai ekpektasi, tidak sesuai yang diharapkan dan atau tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

✍️ Kronologi.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam bahasan "Muqaddimah Tasawuf" bahwa tasawuf itu lahirnya muncul dari amaliah-amaliah syariat yang shahih dan buah dari aktivitas atau kerohanian (hati) yang bersih nan jujur, Maka Ibn Athoillah pun membahas kisi-kisi dalam beramal pada Maqolah pertama ini.

Penjelasan Maqolah 001.

Dalam maqolah pertama ini, Ibn Athoillah R.A seperti memberi bekal-memberi pagar pada para pembaca, terutama untuk para Muridiin-Salikiin (orang-orang yang memang sudah memasang diri ingin dan mau menempuh perjalanan ruhani atau SULUK) bahwa hendaknya semestinya dan memang sudah seharusnya (wajib) dalam memulai langkah perjalanan suluknya tidak bergantung pada amalnya.

Karena mau menempuh perjalanan ruhani, sudah semestinya tempat bergantung itu HANYA PADA ALLOH semata. Karna kalau bergantung pada amal, sedang amal berikut hasil dari amal itu bisa berubah-ubah. Bisa naik bisa turun, bisa berhasil bisa gagal, bisa sesuai rencana bisa melenceng jauh, Maka bila tidak sesuai ekpektasi, sudah bisa dipastikan harapannya akan mengendur. Dan bila amal usahanya itu ternyata berhasil, maka sudah barang tentu akan muncul pengakuan-pengakuan, sampai kesombongan. Karna ia merasa bahwa keberhasilan itu muncul dari amal usahanya, dari sini sudah tentu saat itu ia lupa pada Alloh, lupa bahwa Allohlah yang berperan dalam keberhasilannya.

** Bergantung (mematok) pada suatu amal (sesuatu selain Alloh) berarti secara tidak langsung ia sudah membatasi kesimpulan dan alternatif lain, membatasi jalan keluar lain, membatasi ilmu lain, membatasi sesuatu yang tak terduga.
Padahal diluar itu ada ilmu Alloh yang tak terbatas, ada kekuatan dan qudrah irodahnya Alloh yang menentukan.
Bergantung pada amal itulah awal mula gerakan atau bisikan-bisikan nafsu. 

Akirnya muncul pengakuan-pengakuan :
"Larisnya usahaku ini karna aku pintar strategi dan rajin berdoa".
~ ia menganggap (bergantung) bahwa ilmu-kepintaran dan doanya itu yang memberi efek laris, menganggap bahwa usaha dan doanya itu punya potensi.

Andai ia tidak lupa 100% pada Alloh, minimal membuat keyakinan-kesadaran akan peran Alloh dalam keberhasilannya itu tidak bulat lagi.
Dia berseru...
"Semua suksesku ini atas rahmat Alloh" ~mulutnya.
Tapi dalam hatinya ada setitik "unek-unek"...
"Lhah kalau aku gak minta-ga rajin berdoa, sepertinya gak akan Alloh ngasih seberhasil ini" 
~ ia menganggap amalnya yang berupa doa itu punya potensi. Menganggap Alloh ngasih karna doanya - nunggu ia berdoa dulu.

Nah bagi para Arifiin-Washilin itu sudah bisa lepas-melepas dari bersandar pada amal-usahanya dan atau sebab akibat. Mereka hanya bergantung pada Alloh semata dalam berhasil atau gagal, dalam suka atau duka, dalam mulia atau hina, dalam bisa atau tidak bisa, dalam ada atau tiada, SAMA SEKALI tidak bergantung pada amal-usahanya.
Para Arifin tidak bergantung pada Amalnya, entah itu ilmunya, usahanya, doanya, kebaikannya, maqam ruhaninya. (Dalam kesadarannya) Para Arifiin itu sudah menganggap - sudah punya keyakinan yang mendalam bahwa semua selain Alloh itu tidak punya potensi (daya) yang bisa memberi efek.

Efek TIDAK Bergantung pada Amal : 
"Jangan bergantung pada Amal" ini bila dilakukan oleh orang awam, maka efeknya akan baik sekali. Ia akan semangat, pantang menyerah, jujur, tanpa pamrih dan tidak butuh validasi, Baik sekali bukan?

Dan teruntuk para Muridiin-Salikiin memang semestinya dan sudah seharusnya "Jangan bergantung pada amal", ya karna dari awal seorang Muridiin-Salikiin ini sudah memasang diri mau menempuh perjalanan ruhani (menjadi hamba Alloh yang semestinya hamba Alloh), ya sudah barang tentu kalau beramal apa-apa ya bergantungnya hanya pada Alloh bukan selainNya entah apapun itu.

Seperti ayat berikut :
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ #
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya".

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ #
"Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
~ Q.S An-Nur, Ayat 21.

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًۭا
"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
~ Q.S Al-Insan, Ayat 30.

قَالَ هَـٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّۭ كَرِيمٌۭ #
"iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Q.S An-Naml, Ayat 40.

Juga representasi dari...
"Laa Haula Wa laa Quwwata Illa Billah"
"Tiada kekuatan untuk bisa berbuat baik dan tiada kekuatan untuk bisa menolak sesuatu yang buruk KECUALI atas pertolongan Alloh".

✍️ Efek Baik dari TIDAK bergantung pada Amal.

1. Efek Lahir.

- Semangat.
- Pantang Menyerah.
- Kejujuran- Kesungguhan hati.
- Tanpa pamrih.
- Tidak butuh validasi.
- Punya integritas.
- Selalu tegar dalam menjalani cobaan hidup.

2. Efek Bathin.

- Taslim.
- Positif thingking.
- Tawadhu' (ketenangan).
- Keteguhan.
- Kuatnya tauhid (keimanan).
- Keikhlasan (tanpa pamrih).
- Rasa Syukur.

✍️ Efek Buruk dari bergantung pada Amal.

1. Efek Lahir.

* BILA AMAL-USAHANYA MEMBERI EFEK (BERHASIL).
- Pengakuan-pengakuan.
- Over thingking (merasa semua dalam kendalinya).
- Keangkuhan dan kesombongan.
- Sok Suci.
- Merasa berjasa.
- Pamrih- meminta imbal balik.
- Bakhil (medit).
- Merasa punya daya tawar-kekuatan untuk menawar atau memaksa orang lain, bahkan pada Alloh.
- Kufur nikmat.

** BILA AMAL-USAHANYA GAGAL-TIDAK SESUAI HARAPAN DAN RENCANANYA (TIDAK BERHASIL).
- Semangat mengendur.
- Berhenti beramal-Malas.
- Kecewa dan Penyesalan.
- Marah, mengeluh, sombat-sambat.
- Panik cemas dan gelisah (Negative thingking).
- Iri dan dengki.
- Putus Asa.
- Mencari kambing hitam (playing Victim).
- Paling parah, menyalah-nyalahkan takdir Alloh.
- Kufur nikmat.

2. Efek Bathin.

- Tidak bisa taslim.
** Tidak muncul taslimnya (kesadaran pasrah pada kuasa Alloh.
"Oo njih Gusti..semua ini adalah kehendakMu", Dalam kesadarannya ia masih saja mencari-cari kesalahan pada sesuatu, lebih² menyalahkan orang lain atau playing victim.

- Ragu atas kekuasaan dan qudrah irodahnya Alloh.
* Sedang ragu atas qudrah dan irodahnya Alloh adalah berlawanan dengan sifat-sifat orang mukmin (keimanan).
Artine (kalau mau langsung diloncat poinnya), orang ragu itu berarti ora patek iman.

- Lupa atas peran Alloh.
** "Lupa atas peran Alloh" dalam Dunia Salikiin (dalam dunia tasawuf) itu sudah dihitung suatu kesalahan.

- Yang pada akhirnya tidak bisa masuk pada rukun iman nomer 6, Yaitu iman (yakin dan patuh) pada takdir yang berjalan pada posisi situasi dan kondisi yang dialami orang tsb, entah itu takdir baik atau tidak baik.

- Kufur Nikmat.
Pada kasus yang lebih fatal, orang bergantung pada amal itu bisa kufur (mengingkari peran Alloh, entah pada posisi berhasil atau gagalnya suatu amal).
Seperti dalam kasusnya Fir'aun yang sampai berani mengaku menjadi Tuhan (karena ratusan tahun tidak pernah sakit dan semua yang diinginkan selalu terwujud).
Seperti juga kasusnya Qarun, yang dengan sumbarnya mengaku bahwa semua kekayaannya atas hasil dari ilmunya (usahanya).
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ
Al-Qashash, Ayat 78. 

Lihat juga kisah ayat berikut :
وَكَانَ لَهُۥ ثَمَرٌۭ فَقَالَ لِصَـٰحِبِهِۦ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَنَا۠ أَكْثَرُ مِنكَ مَالًۭا وَأَعَزُّ نَفَرًۭا # وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَـٰذِهِۦٓ أَبَدًۭا #  وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةًۭ وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّى لَأَجِدَنَّ خَيْرًۭا مِّنْهَا مُنقَلَبًۭا
"Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat". Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu".
~ Komplitnya Kisah di Q.S Al-Kahfi, Ayat 32 sampai Ayat 44.

Kesombongan dan Kufur Nikmat itu semua asal-usulnya dari bergantung pada amal-usahanya, akirnya amalnya itu diklaim miliknya, hingga berujung kufur-mengingkari peran Alloh (Fatal).

Sasaran Pembahasan :

Dari penjelasan di atas, terbagilah tingkatan dan diketahuilah pembeda antara Orang Awam, Murid-Salik dan para Arifiin.

1. Orang Awam :

Ia sering bersandar pada amal-usaha atau sebab-akibat yang tampak pada lahirnya.
Karna sebab-akibat di dunia ini berubah-ubah, maka berubah-ubahlah juga sikap lahir dan keadaan bathinnya.

2. Murid-Salik :

Masih juga sering bersandar pada amal-usaha bathinnya atau sebab-akibat yang tampak pada bathinnya (amal ibadah).
Karna sebab-akibat bathin itu juga berubah-ubah, maka saat sebab-akibat itu tidak sesuai, maka keadaan bathinnya juga masih sering terpengaruh.
Terkadang merasa jauh dari Alloh (saat ibadahnya downgrade).
Terkadang juga tiba-tiba merasa dekat dengan Alloh (saat ibadahnya upgrade).
Tapi ini sudah lebih bagus dari yang nomer pertama, namanya juga masih latihan.

3. Para Arifiin-Washilin (Para Auliya').

Bergantung HANYA PADA ALLOH itu sudah menjadi sifat bagi para Arifiin.
Beliau-beliau sudah bisa lepas-melepas ketergantungan atau bersandar pada amal entah apapun itu bentuk amal (ilmunya, rancangannya, sebab-akibat apapun yang menimpa pada posisi kondisi dan situasi yang sedang dialami para Arifiin. Bisa lepas dari kekuatannya, pengaruhnya, hartanya, usahanya, logika akal kepandaiannya, doa-doanya, maqam kedekatannya pada Alloh), semua selain Alloh sudah ga dianggap mempunyai potensi.

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ #
"Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
~ Q.S An-Nur, Ayat 21.

‼️ MULAHADZOH (PERHATIAN):

✍️ Penting untuk diketahui, bahwa dalam mengamalkan atau mempraktekkan maqolahnya Ibn Athoillah R.A yang nomor 1 ini (jangan bergantung pada amal), baik itu orang awam, murid-salik atau para Arifiin-Washilin, prakteknya itu HANYA DALAM KESADARAN, DALAM HATI, DALAM KEFAHAMAN, DALAM KEYAKINAN SAJA.
Tapi bahwa kamu sudah diberi ilmu lahir, diberi ilmu sebab-akibat, diberi kekuatan, pengetahuan, MAKA tetap, kamu juga harus mengamalkan ilmu tsb, karna pada hakikatnya semua ilmu itu juga pemberian-Nya, sedang kamu sebagai hamba selalu kena taklif- tuntutan untuk mengamalkan-menyalurkan pemberian-Nya.

Sebagai contoh, kamu tau (diberi pengetahuan sebab-akibat) bahwa belajar itu pangkal pandai, hemat itu pangkal kaya, Maka tentu kamu juga harus mengamalkan belajar dan berhemat itu (tuntutan keilmuan lahir yg diberikan Alloh padamu). Tapi tetap, dalam kesadaranmu harus selalu berkeyakinan bahwa sebab-akibat pandai dan kaya itu semua atas ijin Alloh.

Begitu juga pada akibat buruk. Kamu diberi pengetahuan bahwa kalau tabrakan itu bisa membuat orang sakit-badan celaka. Maka tentu kamu juga harus menghindari tabrakan itu agar tidak celaka. (Tuntutan keilmuan lahir yg diberikan Alloh padamu). Tapi tetap, dalam kesadaran bathin harus selalu faham-sadar dan yakin bahwa semua itu adalah atas peran Alloh.

Seperti ayat berikut :
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُۥ فِى ٱلْأَرْضِ وَءَاتَيْنَـٰهُ مِن كُلِّ شَىْءٍۢ سَبَبًۭا # فَأَتْبَعَ سَبَبًا. #
Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.
maka diapun menempuh suatu jalan.
~ Q.S Al-Kahfi, Ayat 84-85.

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍۢ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ #
"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan".
~ Q.S An-Nahl, Ayat 53.

وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ #
"Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat".
~ Q.S Baqarah, Ayat 102.

إِنَّمَا ٱلنَّجْوَىٰ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ لِيَحْزُنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَيْسَ بِضَآرِّهِمْ شَيْـًٔا إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal".
~ Q.S Al-Mujadilah, Ayat 10.

"Karna kamu ditakdir kaya-ditakdir pandai, maka dibikinlah simulasi kamu diberi hidup, diberi otakmu bisa berfikir, diberi tenaga, diberi waktu dan kesempatan. Andai kamu tidak ditakdir kaya-pandai, maka sudah pasti simulasinya gak dilancarkan Alloh".
~ ‼️ Tapi ini dalam kesadaran saja lo ya.

TIDAK BOLEH juga untuk menuduh orang, memvonis orang atau konpress ke publik bahwa "aku hanya bergantung pada Alloh saja".
"Karna hakikat (ahwal keruhanian) itu tidak boleh keluar dari mulut (untuk konprensi didepan publik). Karna maknanya itu nanti akan berubah jadi pengakuan atau ngaku-ngaku, bukan kejujuran lagi". 

Plot Twist Implikasi:

Meski sudah banyak keterangan yang menjelaskan bab ini, meski sudah banyak latihan, pada banyak kasus "Bergantung pada amal" entah bagi orang awam atau Murid-Salik sekalipun, hal tsb sering berefek atau seringkali mempengaruhi pada situasi...

✍️ Membuyarkan konsentrasi-kekhusyukan ketika sholat.

* Konsentrasi dalam sholatnya pecah karna ia masih membawa "ke-Akuan" nafsunya.

✍️ Keretakan dalam berumah tangga.

* Karna sedari awal ia menikah sudah mematok atau sudah bergantung pada sebuah rancangan "harus gini-harus gitu".  ~ Belum keluar tawwakalnya.

Pertanyaannya!

"Lhah terus kalau sudah Arifiin-Washiliin-Auliya' Shalihiin apakah sama sekali tidak pernah didatangi keraguan atau kegundahan (ora patek manteb) akan pengaturannya Alloh, hingga akirnya bergantung pada amal-sebab akibat?"

Jawab :

"Pada suatu waktu, terkadang para Arifiin-Washiliin-Para Auliya' juga dilanda keraguan atau kegundahan juga. Namun biasanya tidak berselang lama langsung diingatkan oleh Alloh, didatangkan wahyu (bila ia seorang Nabi-Rasul), atau dikasih ilham, dzauq, atau didatangkan kejadian yang membuat hatinya mantab kembali (bila ia seorang Arifiin-Auliya')".

✅ Seperti halnya kronologi Nabi Muhammad S.A.W. saat dilanda kegundahan atas perlakuan para Musyrikiin akirnya menerima wahyu surah "Alam Nasyrah".

✅ Seperti halnya kegundahan Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq R.A saat dikejar kaum musyrik dan bersembunyi bersama Nabi di Gua Hira, akirnya diingatkan Nabi "La Tahzan, Innalloha ma'anaa"

✅ Seperti halnya Nabi Ibrahim A.S yg sempat ragu akan kekuasaan Alloh "Balaa walakin li tahtmainna qalbii", akirnya diingatkan Alloh "Fa hud arba'atan minat thoiri".

✅ Melihat logika dan potensi yang ada (Bersandar pada amal-sebab akibat yang tampak lahir atau ragu), koq gak mungkin-blass gak masuk akal kalau 313 pasukan badar bisa mengalahkan 1000 pasukan Quraisy. Akirnya Alloh memberi kabar gembira agar supaya hatinya tenang dan yakin kembali "illa busyro lakum wa litathmainna qulubukum bihi".


Implementasi Praktek :

✍️* Bagi orang awam, mempraktekkan "Jangan bergantung pada Amal" ini adalah berat, karena tidak sesuai dengan kebiasaan umumnya orang, terlebih berat lagi bagi orang yang awam akan ilmu tasawuf. (Memerlukan bimbingan dan latihan yang extra).

Hawong nyata-nyata yang kerja keras kamu, yang usaha kamu, yang tiap malam berdoa kamu, terus saat berhasil "tidak boleh mengakui" bahwa keberhasilan itu hasil kerja kerasmu tapi disuruh selalu sadar bahwa semuanya itu karna bantuan Alloh, berat bukan?
Yang muncul duluan dalam hati saat berhasil ya...
"Wahh..doaku tadi malam mustajab, rek"
"Wahh..rencanaku tembus"
"Kalau gak tak bantu, mana mungkin bisa begini".

Atau mungkin saat ini ia sadar, tapi saat sudah berlalu masa, ia pun bercerita pada orang lain..
"Andai dulu bukan karna aku begitu, mana mungkin bisa begini".

"Lhah Allohnya di mana, selama ini ngapain?"
~ Wis ilang, Sudah gak masuk dalam kamus kesadarannya.
Saat sudah berhasil, Allohnya sudah tidak dianggap lagi, sudah tidak diikutkan lagi, dianggap tidak berperan. Padahal dulu pas waktu susah, dulu pas waktu keadaan terjepit-darurat, ia berdoa memohon dan meminta dalam keadaan duduk berdiri atau berbaring sambil nangis-nangis pada Alloh.

Seperti dalam ayat berikut:
فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَن # وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ #
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".
~ Q.S Al-Fajr, ayat 15-16.

✍️* Karena ia bergantung pada amal-hasil-sebab akibat, maka akirnya ia memvonis-mengklaim kalau hidup penuh kemuliaan itu berarti Alloh sedang memuliakannya. Dan memvonis bahwa hidup dengan cobaan-musibah atau sempitnya rizqi itu Alloh sedang menghinakannya?.
Terusnya ayat "Kalla" bukan seperti itu.
Akan tetapi ukuran atau barometer kemuliaan dan kehinaan itu pake ukuran-ukuran yang ditentukan Alloh.

Demikian juga, efek kesombongan dan kufur nikmat yang asal-usulnya itu muncul dari bergantung pada amal, seperti ayat berikut :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍۢ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ .
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata".
~ Q.S Al-Hajj, Ayat 11. 

وَإِذَا مَسَّ ٱلْإِنسَـٰنَ ٱلضُّرُّ دَعَانَا لِجَنۢبِهِۦٓ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَآئِمًۭا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُۥ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَآ إِلَىٰ ضُرٍّۢ مَّسَّهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ #
"Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan".
~ Q.S Yunus, Ayat 12.

وَلَئِنْ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِنَّا رَحْمَةًۭ ثُمَّ نَزَعْنَـٰهَا مِنْهُ إِنَّهُۥ لَيَـُٔوسٌۭ كَفُورٌۭ
"Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih".
~ Q.S Hud, Ayat 9.

وَلَئِنْ أَذَقْنَـٰهُ نَعْمَآءَ بَعْدَ ضَرَّآءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ ٱلسَّيِّـَٔاتُ عَنِّىٓ ۚ إِنَّهُۥ لَفَرِحٌۭ فَخُورٌ
"Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: "Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku"; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga".
~ Q.S Hud, Ayat 10.

✍️* Bagi para Muridiin-Salikiin yang memang sudah memasang diri utk latihan mujahadah mempraktekkan hal ini, hendaknya bergantung pada janji-janji Alloh, kabar-kabar gembira dalam Al-Qur'an dan Hadist Nabi. 

** Ya meskipun hal ini juga sebenarnya mengurangi kebulatan-kesungguhan dalam bergantung HANYA pada qudrah irodahnya Alloh, namun untuk latihan, its okelah.

Perintah dan janji-janji Alloh atau kabar gembira dalam Al-Quran dan Hadist, agar semangat dan kesungguhan dalam beramal itu bisa kontinyu dan tidak sebagai tumpuan (tempat bergantung), seperti...

إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌۭ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ #
"Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik".

وَٱصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan".

مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةًۭ طَيِّبَةًۭ ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan".
~ Q.S An-Nahl, Ayat 97.

قُلْ يَـٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌۭ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas".
~ Q.S Zumar, Ayat 10.

✍️* Bagi para Arifiin, sudah ga perlu dibahas lagi. Karna Beliau-beliau itu saklar ingat Allohnya sudah OTOMATIS, gaperlu dipancing-pancing dulu seperti yang bukan Arifiin. 

Para Arifiin-Washiliin itu sudah bisa lepas-melepas dari sebab-akibatnya suatu amal, entah itu amal-usaha lahir atau amal-usaha bathin.

Disaat Beliau berhasil atau bisa melakukan suatu kebaikan, kefahamannya konstan selalu sadar bahwa Allohlah yang saat ini membuat dan memberi kesempatan berbuat baik.

Sebaliknya, saat menemui kegagalan, lupa atau bahkan sampai ia melakukan suatu kesalahan ibadah (maksiat), ia bisa segera sadar dan langsung memohon ampun, sadar bahwa kesalahan itu semata simulasi untuk ia memohon ampun, istigfar, dan sebagai pelajaran supaya tidak sombong karna merasa bisa.

Seperti ayat berikut :
وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui".
~ Q.S Al-Imran, Ayat 135.

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
"Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
~ Q.S Shaffat, Ayat 96.

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌۭ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ #
"Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal".
~ Q.S Al-Imran, Ayat 7.

يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ ٱلْأَمْرِ مِن شَىْءٍۢ ۗ قُلْ إِنَّ ٱلْأَمْرَ كُلَّهُۥ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِىٓ أَنفُسِهِم مَّا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌۭ مَّا قُتِلْنَا هَـٰهُنَا ۗ قُل لَّوْ كُنتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ ٱلَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِىَ ٱللَّهُ مَا فِى صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِى قُلُوبِكُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ #
"Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati".
~ Q.S Al-Imran, Ayat 154.

Contoh Kasus bergantung pada amal.

1. Pada perbuatan.

🗣️ "Kalau kamu baik, aku bisa lebih baik. Kalau kamu jahat, aku bisa lebih jahat".
✍️* Ia menggantungkan amal perbuatan baiknya pada orang lain (nunggu orang lain berbuat baik dulu). Namun saat yang diharapkannya itu tidak sesuai ekpektasi, maka sikap baiknya pun berubah jadi sebaliknya.
✍️* Artinya, perbuatan baiknya yang kemarin itu ternyata TIDAK JUJUR (ada motif terselubung).
✍️* Artinya, kebaikan yang dilakukannya itu tidak muncul atas dasar bahwa ini baik, bahwa selalu berbuat baik itu adalah perintah Alloh, namun berbuat baiknya digantungkan pada sesuatu yg lain. Akirnya saat sesuatu yg lain itu tidak sesuai harapan, maka amalnya pun putus-meleyot.

2. Pada Amal-Usaha yang berhasil.

Antara guru dan murid, Antara ortu dan anak, Antara Pemimpin dan rakyat yg dipimpin, Antara atasan dan bawahan, antara suami dan istrinya atau sebaliknya.
🗣️ : "Kecil dibesarkan, besar disekolahkan, apa ini balasan pada ortumu-gurumu?".
✍️* Gurunya-Ortunya menganggap bahwa usaha membesarkan-mendidik anak-murid itu muncul dari dia bukan dari Alloh, akirnya merasa berjasa, akirnya ia menuntut imbal balik dari yg diberi jasanya dulu.
✍️* Bakti pada ortu, Patuh pada guru itu sudah kewajiban anak-murid, Tapi bagi ortu-guru itu tidak boleh (maksa-maksa) MENUNTUT balas imbalan.
✍️* Semua itu karena kebaikan yg telah dilakukan ortu-guru diklaim bahwa itu muncul darinya (bukan dari Alloh), lalu merasa berjasa, lalu jasanya itu dibuat senjata untuk menuntut balas budi-imbal balik. (Tawar menawar - merasa punya daya tawar atas amal yang telah dilakukannya).

3. Pada Amal-Usaha yang tidak berhasil.

Saat seorang bergantung pada suatu Amal-Usaha namun gagal atau tidak berhasil, ia jadi malas berhenti semangat meredup dan merasa berputus asa.
- Merasa banyak berdosa dan tidak ada ampunan lagi.
- Merasa gagal dan tidak ada kesempatan lagi.
- Merasa gagal jadi anak yang berbakti.
- Merasa gagal jadi orang tua-ayah-suami yang baik.
- Merasa gagal tidak bisa membahagiakan keluarga dan anak istri.
- Merasa kecil hati dan merasa sudah tidak ada tempat lagi di dunia ini.
- Merasa hidup sudah tidak berguna lagi.
- Sampai menyalah-nyalahkan keadaan, menyalah-nyalahkan orang lain, sampai menyalahkan takdir Alloh, beranggapan bahwa "Takdir itu Kejam".
"Kok kamu merasa seperti itu lo, ngapain?"😀

Kamu sedang bergantung pada amal sebab-akibat, dan kamu juga sedang lupa bahwa Alloh yang maha kuasa, lupa pada yang maha mengatur, lupa bahwa semua di Dunia ini sudah pas dan sesuai skenarioNya. Lupa pada Alloh yang maha pemaaf, lupa bahwa...
✅ Alloh itu bisa lo membalik keadaan seketika langsung berubah.
Dari mulia, jadi hina. Dari sulit, jadi mudah, atau sebaliknya.
Alloh itu juga bisa dan sering...
✅ Menyelipkan kepayahan-kecemasan dalam kekayaan.
✅ Menyelipkan kebahagiaan dalam kesengsaraan hidup dan kemiskinan.
✅ Menyelipkan penyakit dalam enaknya sate, dan bisa menyelipkan obat kesehatan dalam pahitnya brotowali.
✅ Alloh itu bisa lo memberi sesuatu yang agung dengan cara sembunyi (tidak diketahui orang lain).
✅ Alloh itu bisa lo memaafkan kesalahan sebanyak apapun, asal kamu bener-bener mau bertobat.
✅ Alloh itu bisa lo memberi jalan keluar pada suatu masalah, yang manusia itu meyakini masalah itu sudah buntu.
✅ Gusti Alloh itu kuoso banget, Sugih banget, Mbikin seperti itu, membolak-balik keadaan seperti itu guuampang banget, mudah sekali bagiNya.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ #
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya".

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ #
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya".

قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
~ Q.S Zumar, Ayat 53.
Orang itu kalau memang bener-bener tawwakalnya pada Alloh semata, Tawwakalnya tenanan, bener-bener bersandarnya hanya pada Alloh, wis to...beres beres. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan dicemaskan.
Tapi ya jangan terus mancing-nantang...
"Alloh maha pemaaf, aku tak berdosa terus aja ah" 
~Itu namanya nantang.

4. Contoh Kasus pada Muridiin-Salikiin.

Saat amaliah atau aurad yang ia dibaca, mujahadah yang sudah sekian lama, usaha yg belum membuahkan hasil dan doanya yg belum terkabul, akirnya ia merasa seperti nemu kebuntuan, roja'nya pada Alloh berkurang, hingga akhirnya azamnya tidak bulat lagi, akirnya ia malas bahkan berhenti beramal.

Atau sebaliknya, saat amaliah, ibadah, mujahadah, usaha dan doanya itu berhasil dan terkabul, ia mengira bahwa dari usahanya itulah sebab Alloh mengabulkan doa-doanya.

Maka hendaknya bagi murid-salik untuk selalu faham bahwa Alloh itu Ghoniyyun Hamid, Ghaniyyun Kariim (Alloh memberi atau tidak memberi, membuat berhasil atau gagal itu tidak karna suatu amal yang telah dilakukan makhluk, akan tetapi bersih dari semua alasan makhluk).

Alloh memberi karena memang Fadhol kemurahanNya.
Alloh mencegah-menolak ya karena memang keadilanNya.
Dan yang berhasil atau gagal itu semua ada hikmah yang kembali pada kebaikan manusia itu sendiri. Sedang Alloh Ghaniyyun (tidak butuh atau bersih) dari alasan itu semua.

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًۭا وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ #
"Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
~ Q.S An-Nur, Ayat 21.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)".
~ Q.S Al-Qashash, Ayat 68.

Dan hendaknya Murid-Salik itu selalu faham-sadar betul bahwa yang menjadikannya sampai pada posisi (belum baik atau sudah meningkat baik) saat ini, itu bukan dari amal mujahadah dan doa-doanya, akan tetapi murni memang Alloh pingin ngasih-memberimu gitu aja.
"Karna Alloh mau ngasih, maka dibikinlah simulasi kamu bisa beramal, diberi kekuatan bisa mujahadah, bisa berdoa, waktu dan tempatnya pun dipersilahkan (dikasih Fadhol). Andai Alloh gak ngasih, maka kamu gak akan mampu untuk melakukan itu semua, waktu dan kesempatannya pun ditutup".
Maha suci Alloh-maha bersih dari suatu alasan apapun dari makhluk.

Refleksi Pertanyaan:

1. Seperti dawuhnya imam Yahya Ibn Muadz Ar-Rozi R.A :

"Roja' harapanku pada Alloh saat aku melakukan sebuah dosa-kesalahan itu mengalahkan roja' harapanku saat ketika aku melakukan amal-kebaikan.
Karna saat aku berbuat amal-kebaikan aku berharap bisa ikhlas dan diterima. Dan bagaimana aku bisa ikhlas (murni), sedang amalnya aja banyak cacatnya?.
Namun saat aku melakukan dosa-kesalahan, maka harapanku satu-satunya hanya pada kemurahan ampunan Alloh, lalu bagaimana Alloh tidak mengampuni, sedang sifatnya sudah Maha Pengampun?".
~ Risalah Qusyairiyyah, Hal 361.

✍️* Ini menunjukkan bahwa bergantung pada amal, meski amal paling baik sekalipun itu tidak boleh.

✍️* Justru terkadang dari suatu dosa- kesalahan malah lebih bisa memunculkan harapan pada Alloh secara loss.

=====
Juga hadist dari kisah Nabi S.A.W saat didebat kaum musyrik perihal domba yang mati.
"Lihatlah domba yang mati, siapa yang membunuhnya?"
"Alloh"
"Lalu kenapa yang dibunuh oleh Alloh kamu haramkan, sedang domba yang kamu dan para sahabatmu sembelih kamu halalkan?"
~ Tafsir Thobari, hadist 13813.
~ Taqribu Ushul li Tashili Wushul (Imam Zaini Dahlan), Hal 12.

Jawabannya:
✍️* Yang kamu sembelih itu juga hakikatnya Alloh juga yang membunuh. Tapi bahwa Alloh jugalah yang membuat aturan syariat bahwa sesuatu itu halal atau haram. Dan sasaran taklif tuntutan itu pada kamu (manusia).

✍️* Meski pada hakikatnya Alloh jugalah yang membuat baik dan buruk, tapi tetap, yang melakukan itu kamu (manusianya). Maka manusianya itulah yang kena taklif tuntutan baik buruknya 
Bila baik, dibalas baik. Bila buruk, dibalas buruk.

Tidak bisa kamu berkata mengelak..
"Aku jahat ini karna Alloh yang melakukan".
Hawong nyata² yang berbuat jahat itu anggota badanmu, yang dihukum ya kamu".

Seperti Ayat berikut :
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُۥ فِى ٱلْأَرْضِ وَءَاتَيْنَـٰهُ مِن كُلِّ شَىْءٍۢ سَبَبًۭا #  فَأَتْبَعَ سَبَبًا  # 
"Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. Maka diapun menempuh suatu jalan".
~ Q.S Al-Kahfii, Ayat 84-85.

2. Kasus Pemahaman Musykil.
Dalam Al-Qur'an Alloh berfirman :

Jangan bergantung pada amal
Maqolah 001, jangan bergantung pada amal.

وتلْكَ ٱلْجَنَّةُ ٱلَّتِىٓ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan".
~ Q.S Zukhruf, Ayat 72.

فَذُوقُوا۟ بِمَا نَسِيتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَآ إِنَّا نَسِينَـٰكُمْ ۖ وَذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلْخُلْدِ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan".
~ Q.S Sajdah, Ayat 14.

✍️* Pada ayat-ayat di atas seakan-akan menjelaskan bahwa orang disiksa-orang masuk surga itu karna amalnya (seakan memberi pengertian bahwa amal itu mempunyai potensi, bisa jadi 'itimad untuk jadi sebab masuk surga-neraka).

Sedang Nabi Muhammad SAW pernah dawuh (hadist shohih) :
 لن يدخل أحدكم الجنة بعمله . ولا أنت يارسول الله ؟  
ولا أنا إلا أن يغمدني الله برحمته  #
"Kamu sekalian tidak akan bisa masuk surga karna sebab amalmu.
(Para Sahabat bertanya) : "Bahkan engkau (juga gak bisa masuk surga karna amalmu), Ya Rosulalloh?"
(Nabi Menjawab) : "Iya, bahkan aku sendiri, Kecuali bila Alloh memberi karunia rahmatnya padaku".

Pertanyaannya :
"Apakah tidak bertentangan antara firman Alloh dalam Al-Qur'an dan hadist Nabi S.A.W?".

Jawabannya :
✍️* Alqur'an itu kitab panduan baku bagi umat manusia, sedang cara mempraktekkan panduan itu harus ikut caranya (sunah-sunah) Rosululloh.

Jadi terkadang ditemukan hukum dalam Al-quran lalu dikuatkan oleh hadist Rosululloh, atau sebaliknya, pada suatu waktu hadist Rosululloh dikuatkan dengan dawuh Al-Qur'an.

Terkadang Al-Quran menjelaskan syariatnya (cara lahirnya-logikanya), lalu dijelaskan hakikatnya oleh Rosululloh. Atau sebaliknya, Rosululloh menjelaskan syariatnya (cara lahirnya-logikanya), lalu pasti akan ditemukan hakikatnya (rujukan pemahaman ayatnya) dalam Al-Qur'an.

✍️* Melihat penjelasan ini, maka tiadalah bertentangan antara dawuh Al-Qur'an dan Hadist Nabi.
Karna kehendak Pengutus (Alloh) pasti akan dijelaskan Utusannya (Nabinya), dan cara- penjelasan UtusanNya pasti sama dgn kehendak PengutusNya.

✍️* Dari penjelasan ini, maka muncullah dalil :
"Kullu ilmin haqiqotun, wa kullu haqiqotin ilmun"
Setiap ilmu (syariat/logika) pasti bisa ditemukan hakikat (pemahamannya), dan setiap hakikat/pemahaman pasti bisa ditemukan logikanya (bisa diilmuni).

Artinya : Jika ada atau nemu sebuah pemahaman atau teori aneh-aneh, kok tidak cocok dengan syariat Nabi, maka pemahaman itu batal (tidak bisa diikuti).

Contoh : Nemu pemahaman bahwa harta dunia itu enak, tapi dalam Al-Qur'an menjelaskan bahwa harta dunia itu cuma tipuan, BERARTI pemahaman harta dunia enak itu tidak bisa diikuti/cacat atau salah logika.
(Bila Pemahaman hakikatnya itu sedikit-sedikitpun tidak bisa dimasukkan pada ajaran Al-Quran dan hadist, maka pemahaman itu tidak bisa diikuti).

Sebaliknya, bila nemu sebuah ilmu kebenaran-amaliah baik yang tidak bertentangan dengan hukumnya orang waras atine (meski saat ini belum nemu dalil), PASTI SUATU SAAT bisa dibuktikan secara syariat-alquran.
Karna kebaikan itu sendiri sudah merupakan hakikat inti dari ajaran Rosululloh.

✍️* Maka sebaiknya seseorang harus memahami keduanya (Syariat dan Hakikat).
==== Intaha, penjelasan dawuh kitab Ib'adul Ghumam Syarah Al-Hikam, Hal 25.

Maka, harus difahami dan sadari betul, bahwa manusia itu cuma wayang, dan Allohlah dalang skenario dan sutradaranya.

Wallohu 'Alam.



Mudarosah Interaktif

Artikel Terbaru Catatan Mudarosah


Muhadloroh Interaktif

Bab Dzikir Dan Do'a


Fiqih Interaktif

Muhadloroh Fiqih Ala Mizani Tawwasuth.

Pelajari Selengkapnya ...

Mausuah Adab

Praktek Tatakrama Ubudiyyah Wal Muammalah.

Pelajari Selengkapnya ...

Para Tokoh Salafu Shalih

Biografi Para Imam Dan Para Tokoh Islam.

Pelajari Selengkapnya ...

Ma'arif Tasawuf

Intens Pemahaman Amaliah Tasawuf.

Pelajari Selengkapnya ...

Syarah Asma' Wa Adilatihi

Interaktif Kajian Syarah Asma'.

Pelajari Selengkapnya ...

Mausuah Tafsir

Interaktif Mudarosah Tafsir Al-Qur'an.

Pelajari Selengkapnya ...

Muhadloroh Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Maqolah 001 - Mulailah Amalmu Dengan Jangan Bergantung Pada Amalmu ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Koreksi dan masukan, silahkan kirim via Email.

Vote:
Kirim Donasi
Post Location :
Lawe Sagu, Kec. Lawe Bulan, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia

Bab Dan Fasal

Comments And Inbox

Kirim Email
Forum Diskusi

Komentar