Maqolah 008 - Kenalilah Momentum Datangnya Ta'aruf Perkenalan Alloh Padamu

BlogAuthor
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Catatan Mudarosah Interaktif - Penjelasan Fasal 008 Alhikam
Fasal 008, Attanbih Syarah Alhikam. 
 Kenali Momentum Datangnya Ma'rifat Padamu. 

Terjemah Fasal 008 Al-Hikam. 

"Bila Alloh telah membukakan (mendatangkan) padamu sebuah momentum perkenalan, maka jangan kamu pedulikan bila amaliahmu berkurang. Sungguh, lebih berharga momentum perkenalan yang Alloh datangkan padamu daripada amal yang engkau haturkan". 

Kamus Kata :

1. Wijhatun. 

Wijhatun = Sebuah cara, sebuah proses, sebuah momentum.

2. Min At-Ta'aruf. 

Dari sebuah Ta'aruf, sebuah perkenalan, sebuah PDKT, sebuah pertemuan, 

Wijhatun min at-ta'aruf itu ibarat sebuah momentum perkenalan. Dalam kontek ini Alloh membuka sebuah momentum ingin lebih mengenalkan dirinya padamu dan/atau Alloh membuka sebuah momentum agar kamu lebih mengenalnya. Gampangnya Alloh pingin PDKT.

Penjelasan Fasal 008 Al-Hikam. 

Setelah menjelaskan runtutan awal perjalanan seorang pesuluk, dari mulai..
  1.  Jangan bergantung pada amal. 
  2.  Baiknya asbab atau tajrid saja. 
  3.  Sawabiq Himam alias ojo kagetan. 
  4.  Jangan intervensi keputusan Alloh. 
  5.  Sikap dan langkah saat mencari rizqi. 
  6.  Sikap dan langkah saat doa belum terkabul. 
  7.  Larangan ragu dan bimbang saat ketika berdoa. 
  8. Pada fasal 008 ini Syeikh Ibnu Athoillah menegaskan saat ketika seorang murid atau salik dalam perjalanannya itu menemukan atau berpapasan dengan momentum "TA'ARUF". Ta'aruf yaitu sebentuk momentum atau simulasi kejadian/peristiwa atau sebuah proses di mana Alloh ingin lebih dekat atau ingin agar supaya si murid/salik itu lebih mengenalnya. 

Momentum Ta'aruf. 

Sebagaimana orang naksir lalu pingin berkenalan atau PDKT, seringkali ia akan mencari cara, entah cara apapun itu agar bisa ketemuan-berkenalan-bicara empat mata lalu lanjut hubungan sama si Doi. Selalu ukrik, adaaa aja caranya biar bisa selalu ketemu. 

Entah itu pura-pura kesandung, pura-pura ninggalkan buku, pura-pura motornya mogok, itu kalo orang vs orang. Tapi kalo Alloh akan meninggalkan sebuah momentum atau sebuah peristiwa yang mana si murid-salik itu mau gak mau harus nyebut-nyebut terus pada Alloh atau terpaksa harus mendekat pada Alloh dengan lebih intens. 

Wijhatun min At-Ta'aruf kalo bisa dibilang itu sebuah kode. 
Jadi saat murid-salik yang memang sudah sedari awal niat memasang diri untuk lebih intens dengan Alloh, oleh Alloh keniatan itu direspon. Akirnya, didatangkanlah sebuah momentum pengujian "keniatanmu itu beneran atau gombal belaka?", ** kira-kira begitu.

Pengujian ini sesuai Firman Alloh dalam Q.S Al-Ankabut (29) ayat 2. 

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?".

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌۭ

"Apakah mereka mengira bahwa mereka akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". ~ Q.S Al-Baqarah (2), Ayat 214. 

Melihat runtutan dari 2 ayat di atas, sebagaimana namanya sebuah (momentum) ujian, seringkali bentuk momentum/kode ta'aruf itu adalah sebentuk sesuatu yang (nafsu) orang itu tidak menyukainya, seperti kegagalan, kemalangan, kemelaratan, kehilangan hingga jatuhnya harga diri (kesombongan/ego) seseorang. Meski tidak menutup kemungkinan juga Alloh mendatangkan sebuah momentum yang (nafsu) orang menyukainya.

Bisa jadi momentum pengujian itu bentuknya kepenak, bisa juga tidak kepenak.
Dua hal itu sesuai dengan Firman Alloh dalam Al-Qur'an. 

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَلَـٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ 

"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan". - Q.S Al-Ma'idah (5) ayat 48. 

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". ~ Q.S Al-Mulk (67) ayat 2. 

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةًۭ ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan". ~ Q.S Al-Anbiya (21) ayat 35. 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ ٱلْمُجَـٰهِدِينَ مِنكُمْ وَٱلصَّـٰبِرِينَ وَنَبْلُوَا۟ أَخْبَارَكُمْ

"Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu". ~ Q.S Muhammad (47) ayat 31. 

وَٱللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ 

"Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". ~ Q.S Al-Baqarah (2) ayat 245. 

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍ

"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri". ~ Q.S Al-Hadid (57) ayat 23. 

** Melihat runutan ayat di atas, dengan kata "Maut", "Yaqbidhu", "A'la maa fatakum" seringkali pengujian itu bentuknya "Ora Kepenak" dulu. Entah kemalangan, kegagalan, kemelaratan, kesakitan, kehilangan, hingga jatuh atau hilangnya harga diri (kesombongan/ego).

Hingga pada akhirnya, ia nanti juga akan dikasih momentum pengujian "Kepenak". Ibarat, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Refleksi dari pengenalan Asma'-Nya Al-Qabidh dan Al-Basith. 

Selengkapnya perihal tersebut, bisa dibaca pada ulasan "Hikmah-Hikmah Bala' Dan Musibah" atau pada fasal "Bab Qabdhu Dan Basthu". 

 

Sasaran Momentum Ta'aruf. 

Pada aslinya-pada dasarnya, setiap orang pasti dikasih momentum ta'aruf (Alloh ngode lewat suatu kejadian), agar supaya manusia itu mengenal (sadar kembali akan) Tuhannya. Bila tidak tau, dikasih tau. Bila lupa, diingatkan. Bila ingin mendekat, disambut. 
Ini sesuai dengan Firman Alloh dalam Al-Qur'an, Hadist Qudsi atau Hadist Nabi.

  1.  Dhomir isyaroh "kum" pada ayat-ayat di atas. 
  2.  Menagih janji, pada ayat "Alastu birobbikum?. Qooluu Balaa syahidnaa".
  3.  Refleksi dari Asma' Al-Hadii, Al-Muhdii. 
  4.  Hadist-hadist "idza ahaballohu". 
  5.  Ayat-ayat yang mengandung taroji. Seperti "la'alakum yatadhoro'un", "la'alakum yarji'uun".
  6.  Dan banyak lagi. Yang mana maknanya itu agar manusia itu kembali (sadar) pada keesaan penciptanya. 
  7.  Hadist Qudsi berikut...

صحيح البخاري ٦٩٨٢: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ حَدَّثَنَا أَبُو زَيْدٍ سَعِيدُ بْنُ الرَّبِيعِ الْهَرَوِيُّ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ قَالَ إِذَا تَقَرَّبَ الْعَبْدُ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِذَا أَتَانِي مَشْيًا أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً 

"Shahih Bukhari 6982: Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Abdurrahim] telah menceritakan kepada kami [Abu Zaid Said bin Rabi' Al Harawi] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Qatadah] dari [Anas] radliyallahu'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang beliau riwayatkan dari Rabbnya (hadis qudsi), Allah berfirman: "Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." 

Faidah Hikmah Penciptaan Manusia. 

Jadi alurnya itu, pada awal penciptaannya dulu (aslinya ruh) manusia itu pernah dekat sekali dengan Alloh yang Maha Segalanya. Berhadap-hadapan dan didawuhi langsung oleh Alloh. Sebagaimana dawuh-Nya dalam Q.S Al-A'raf (7) ayat 172.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Lalu dipersaksikan, diviralkan, diupacarakan, diberi kehormatan tertinggi dengan perintah Alloh pada para Malaikat untuk sujud hormat pada para Bani Adam... (Q.S Al-Kahfi, Ayat 28 - 31, Q.S Shad, Ayat 71 - 74). ** Lihat juga ayat-ayat berikut...

Hikmah-Hikmah Penciptaan dan Turunnya Nabi Adam ke Bumi
Hikmah Penciptaan Manusia. 

Lalu setelah ruh itu diwujudkan di Dunia tempat ujian, karna godaan nafsu-iblis, terpana oleh keindahan dan gemerlapnya Dunia, manusia banyak yang lupa bahkan melenceng salah jalan, akhirnya didatangkan sebentuk kejadian atau momentum untuk mengingatkan atau menariknya kembali ke jalan asalnya (Balaa Syahidnaa). 

Selengkapnya perihal tersebut, bisa dibaca dalam ulasan "Hikmah-Hikmah Penciptaan dan Turunnya Nabi Adam ke Bumi".

Implementasi Momentum Ta'aruf. 

Dalam fasal ini, Ibnu Athoillah memberi sebuah arahan sikap dan langkah bijaksana bila si murid/salik dalam perjalanannya menemui sebuah momentum atau peristiwa-peristiwa yang "Ora Kepenak" dan nyatanya ia benar-benar tidak bisa mengelak dari hal itu. Yang dari peristiwa "Ujian Ora Kepenak" yang menyita waktu tenaga pikiran dan harta bendanya si murid/salik itu tentu juga akan merembet pada berkurangnya amaliahnya

Karna sakit, gak bisa tartib jama'ah. 
Karna melarat, gak bisa sedekah lebih.
Karna miskin, gak bisa membantu maksimal. 
Dan contoh-contoh yang lain.

Sesuai arahan Muallif Alhikam Syaikh Ibnu Athoillah, sikap dan langkah bijaksana bagi seorang murid/salik yaitu hendaknya janganlah memerdulikan berkurang atau merosotnya amaliahnya atas sebab kejadian itu, namun sadarilah bahwa kejadian itu adalah sebuah momentum yang khusus dikirim oleh Alloh sebagai tanda perkenalan dari-Nya. 
Karena kiriman dari Alloh (berupa sebuah momentum ujian tadi) itu lebih utama daripada amaliah-amaliah yang kamu haturkan.

Kenapa lebih utama momentum itu? 
Kan amaliahnya jadi berhenti atau kurang maksimal?
Kalau amalnya berhenti, kan gak dapat pahala? 
Karena momentum ujian-Nya itu kiriman langsung dari Alloh yang khusus didatangkan padamu (murni) alias kamu tidak memiliki opsi lain selain menerima dan menjalani ujian itu,  Sedang amaliah-amaliahmu itu masih sarat dengan kurangnya ikhlas, cacatnya niat, atau tidak terselenggaranya syarat rukun dengan benar (tidak murni).

Ending Momentum Ta'aruf. 

Bila Alloh mendatangkan kiriman momentum ta'aruf/perkenalan padamu (seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi), Lalu kamu (diberi kesempatan) menyadari betul bahwa itu kiriman-Nya, Lalu dalam hatimu (Alloh memberi) ada ketenangan, ada sakinah, ada rasa legowo atas kirimannya itu, Maka ketahuilah, bahwa itu adalah hadiah besar nan indah dari-Nya. Dan hendaknya dalam momentum ini, kamu tidak usah memerdulikan apa-apa (amaliah-amaliah) yang berkurang hilang atau luput darimu. 

Wallohu 'Alam. 
Intaha, Ulasan Admin. 

Mudarosah Interaktif

Artikel Terbaru Catatan Mudarosah


Muhadloroh Interaktif

Bab Dzikir Dan Do'a


Fiqih Interaktif

Muhadloroh Fiqih Ala Mizani Tawwasuth.

Pelajari Selengkapnya ...

Mausuah Adab

Praktek Tatakrama Ubudiyyah Wal Muammalah.

Pelajari Selengkapnya ...

Para Tokoh Salafu Shalih

Biografi Para Imam Dan Para Tokoh Islam.

Pelajari Selengkapnya ...

Ma'arif Tasawuf

Intens Pemahaman Amaliah Tasawuf.

Pelajari Selengkapnya ...

Syarah Asma' Wa Adilatihi

Interaktif Kajian Syarah Asma'.

Pelajari Selengkapnya ...

Mausuah Tafsir

Interaktif Mudarosah Tafsir Al-Qur'an.

Pelajari Selengkapnya ...

Muhadloroh Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Maqolah 008 - Kenalilah Momentum Datangnya Ta'aruf Perkenalan Alloh Padamu ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Koreksi dan masukan, silahkan kirim via Email.

Vote:
Kirim Donasi
Post Location :
Kec. Lawe Sumur, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia

Bab Dan Fasal

Comments And Inbox

Kirim Email
Forum Diskusi

Komentar