"Janganlah kau meragukan apa yang telah dijanjikan Alloh meski belum terjadi. Supaya mata bathinmu tidak cacat dan cahaya keimananmu tidak padam".
Kamus Kata :
1. La Yusyakikannaka.
- Jangan meragukan, jangan bimbang, jangan menjadi skeptis, jangan mencurigai.
Harap diperhatikan :
Beda makna implementasi antara "Syak" dan "Raiba" meski terjemah dalam bahasa indonesianya sama-sama "ragu atau bimbang".
- Syak : itu asalnya pernah sesekali kejadian, sudah pernah dapat kabar pengumuman, sudah pernah ditolong, umpamanya. Namun pada suatu waktu ia ragu atau entah karna apa ia menjadi skeptis, "ditolong lagi gak ya?" "dikasih lagi gak ya?", itu Syak.
- Raiba : itu memang dari awal cenderung tidak percaya atau skeptis level akut, sedikit lagi nyampe level ingkar, "ah masak sih?" itu Raiba.
Perhatikan kata "Raiba" dalam ayat-ayat Qur'an berikut, tidak lain berfaidah "bantahan pada orang yang tidak percaya, orang yang cenderung ingkar" bahwa Al-Qur'an dan ianji-janji Alloh itu sama sekali tidak ada keraguan di dalamnya (pasti benar, pasti terjadi) alias tidak ada alasan untuk tidak mempercayai kecuali orang-orang yang melewati batas.
Kamus Istilah - Catatan Mudarosah.
2. Fil Wa'di.
Dalam sebuah janji atau informasi atau pengetahuan atau sebuah rumus yang sudah ada, yang sudah kamu ketahui. Dalam hal ini, konteknya ragu pada janji-janji Alloh, Bahwa.. "Ud'unii, astajib lakum". Bahwa.. "Man ya'mal khairon yarohu, Wa man ya'mal sarron yarohu", Bahwa..
"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)". ~ Q.S Al-An'am (6) ayat 160.
Itu semua janji-janji Alloh.
3. Adamu Wuqu'i Mau'ud.
Tapi ternyata apa yang dijanjikan itu, ilham yang kamu terima itu, rumus yang sudah kamu ketahui itu, belum tiba atau tidak tiba, tidak muncul atau tidak terjadi.
"Janjinya Alloh selalu mengkabulkan doa, aku punya keinginan dan berdoa tapi koq gak terjadi, gak terlaksana, gak muncul-muncul?".
4. Wa In Ta'ayyana Zamanuhu.
Meski pengkabulan doa itu sudah ditentukan zamannya atau sudah ditentukan waktunya. Semisal..
Bila mau berbuat begini, maka akan begitu.
Bila mau tirakat begini sekian hari sekian bulan, maka jadinya begini.
Kalo mau berdoa syaratnya begini, maka akan begitu.
Entah informasi "ditentukannya hari" itu tadi lewat ilham atau lewat pengetahuan yang sudah kamu terima (dikasih tau Alloh).
5. Qodhan.
Qodhan = Menjadikan cacat, menjadikan jelek, menjadikan krowak (berlubang atau tidak bulat lagi). **Kamus.
6. Fii Bashiroh.
Bashiroh = Mata Hati.
Dalam kontek ini adalah Kesadaran-Keyakinan hati atau Ma'arif Ilahiyyah (tingkat atau level kesadaran seseorang pada kekuasaan Alloh).
Jadi ibarat, kesadaran-keyakinan seseorang sebelum berdoa atau pas berdoa itu sudah bulat, tapi saat setelah doa-permohonan ditunggu-tunggu gak kunjung terealisasi ia ragu atau bimbang, maka keyakinan sebelumnya yang sudah bulat itu jadi krowak atau tidak bulat lagi.
7. Ikhmadan.
Ikhmadan itu masdar dari lafadz khomada/khomida-yakhmadu-ikhmadan. Yang berarti padam, surut, meredup, mereda, mengabur, berkurang, berhenti atau sirep (jawa). Dalam kontek ini adalah meredup sesudah pernah terang. Asalnya terang 90% jadi cuma 50 %.
8. Nuur Sariroh.
Nuur = Cahaya.
Sariroh = Sirri = Asrar = Saliro (jawa).
Sariroh itu dalamnya dalam hati. Jadi, ibarat hati itu kota, Sariroh itu ibu kota. Ibarat hati itu kesatuan raja kerajaan dan benteng, hati itu bentengnya, sariroh itu rajanya. Sariroh itu Pendekarnya di Bashiroh itu jurusnya. Sariroh atau Sirri adalah tempat di mana Alloh meletakkan cahaya keyakinan dan keimanan. Kalo mau diibaratkan secara umum, Sariroh itu Naluri.
Setiap orang secara watak nalurinya (dalamnya dalam hatinya) itu pasti pingin lebih baik, pingin jujur, pingin menolong, pingin membantu, pingin manut perintah dan menjauhi larangan, Itu semua karna Alloh meletakkan Nuur (Cahaya Kebenaran). Memang desain aslinya gitu.
Selengkapnya akan dijelaskan dalam fasal "Keghaiban Hati", In Syaa Alloh.
Penjelasan Maqolah 007.
Fasal ini sangat erat berkaitan dengan fasal sebelumnya fasal 006, menjelaskan sikap dan langkah seorang salik bila doanya terasa lama tak kunjung terkabul. Dalam fasal ini Muallif Ibnu Athoillah mempertegas lagi atas langkah itu.
Hendaknya seorang Murid atau Salik yang memang sedari awal sudah memasang diri berniat untuk sejalan seirama dengan kehendak Alloh, jangan sampai ragu atau bimbang bilamana doanya selama ini belum terkabul juga. Karena bimbang dan meragukan pengaturan Alloh atas terkabulnya doa itu bisa meredupkan cahaya keyakinan dan keimanan dalam hatinya si Salik.
Realisasi doa saat apa, dimana, kapan, prosesnya seperti apa doa itu akan direalisasikan itu menurut ilmunya Alloh, menurut pertimbangan Alloh. Tentu semua itu untuk kemaslahatan dan kebaikan si Pendoa itu sendiri.
Dan boleh jadi, realisasi doa itu oleh Alloh digantungkan pada sebab-sebab atau syarat-syarat.
Contoh kasus (bisa jadi) :
Si Fulan berdoa semoga segera diberi jodoh pada hari kamis, lalu oleh Alloh akan direalisasi pada hari Ahad, misalnya. Karna hari sabtu dan ahad ia berubah pikiran ga pingin menikah, akirnya doa itu dipending dulu.
Atau realisasi doa itu digantungkan dengan syarat-syarat :
- Entah harus rukun dulu, entah harus punya pekerjaan dulu, entah harus sehat dulu, entah ia harus posisinya sangat membutuhkan dulu atau kemungkinan sebab dan syarat lain. Dan semua itu disimpan oleh Alloh, manusia tidak diberi tau.
Seperti penjelasan dalam Fasal 006 dalam realisasi Doa, banyak sekali hikmah yang disimpan oleh Alloh, baik saat doa itu cepat terealisasi atau lama tak kunjung terkabul.
Contoh digantungkan dengan sebab atau syarat, selengkapnya bisa lihat di "Iqadzul Himam fi Syarhi Hikam, Hal 38.
Dengan keilmuan kebijakan dan pertimbangan Alloh yang begitu luas, yang mana pertimbangan itu juga semata untuk kebaikan di pendoa itu sendiri dan sempitnya pengetahuan manusia (si pendoa), maka bilamana doa itu lama terealisasi, hendaknya si pendoa (murid atau salik) itu jangan sampai meragukan realisasinya Alloh atas doanya itu.