** Seringkali didasari dari Ambisi (bersandar pada kemampuannya)
4. Bersandar Pada Selain Alloh.
** Bersandar pada kemampuannya, Rencananya, Prediksinya, Spekulasinya, Wahmunnya.
5. Tabarum (Memastikan).
** Ia sudah memastikan pada keberhasilan yang belum terjadi.
6. Al-Yaqin La Yuzalu Bi Syak.
Hutang itu mbayarnya WAJIB-Sudah terjadi/disepakati.
Sedang dibelikan/ditasarufkan untuk sesuatu yang tidak wajib/tidak perlu/tidak darurat/berdasar spekulasi/prasangkanya saja.
** Yang bisa memberi keringanan untuk mengambil sesuatu yang wajib (hutang), hendaknya sesuatu itu wajib juga/darurat.
Misalnya, hutang untuk makan, hutang untuk pendidikan agama, dlsb.
7. Takut Melarat/Miskin soal harta dunia.
Takut gak kebagian, Takut gak sukses.
** Ini bertentangan dengan kaidah Keimanan / tasawuf.
SECARA EKONOMI :
Hutang itu sebenarnya...
1. Membeli Sesuatu Yang Sebenarnya Ia Belum Mampu/Belum Perlu.
2. Beban Cash-Flow.
** Sedikit pun bunga kredit/hutang itu membebani cash-flow keuangan kita.
3. Pembengkakan Cash-Flow.
Akan membengkak dengan ketamakan lainnya (barang pendukungnya).
** Beli Mobil, misalnya.
Maka butuh garasi, butuh perawatan, butuh aksesorisnya, butuh biaya-biaya pendukung yang lain. Yang mana biaya² lain tersebut satu kesatuan dengan sesuatu yang sebenarnya belum perlu/belum mampu/konsumtif.
** No 3 ini senada dengan teori Al-Ghazali, yaitu :
"Sesuatu itu bila melebihi kebutuhan-kecukupan, Maka akan menarik-membengkak pada kebutuhan² yang lain".
Simpelnya contoh :
"Kamu punya lebihan uang 150 juta, terus kamu belikan Mobil. MAKA biaya untuk merawat Mobil beserta rumit-rumitnya itu bisa membengkak 10x lipat dari 150 juta tadi".
Termasuk biaya kecemasan-kekhawatiran bila Mobilmu atau Tabunganmu kenapa-kenapa.
Katanya pingin tenang-tentram?
Lah kok semakin kaya-semakin banyak punya ini-itu kok malah makin gak tenang, gak pernah istirahat? Kenapa?
4. RUMAH (diluar kecukupan) adalah beban konsumtif yang sangat sangat menghabiskan keuanganmu.
Seberapa banyak uangmu akan habis ditelan untuk renav-renov rumah beserta printilan-printilannya, yang semua itu di luar kecukupanmu.
PENERAPAN KECERDASAN FINANCIAL :
1. Bersyukur
2. Jangan Tamak-Kepinginan.
3. Stop Kredit Konsumtif.
4. Ciptakan Pasif Income.
5. Mulai dari ciptakan usaha yang minim modal atau zero cost.
- Buruh (jual tenaga sambil belajar dan memetakan rencana).
- Sales (Ciptakan modal Amanah kepercayaan dan tanggung jawab.
- Bertani-Berkebun
Karna bertani itu modal 1 butir jagung, bisa jadi 100 butir jagung.
Dengan penanganan perawatan dan pemupukan berbiaya minimal tentunya.
Kamu bisa tanam dan jual sayuran yang cepat panen dan menghasilkan pendapatan harian.
- Beternak.
Dengan penanganan perawatan dan pemupukan berbiaya minimal tentunya.
- Makelar.
Gunakan kemampuan negoisasi dan berjualan kamu.
6. Jangan berspekulasi pada usaha yang bermodal hutangan.
** Spekulasi itu Dzon (prasangka), sedang mbayar hutang itu Wajib.
** Jangan mengorbankan sesuatu yang Pasti (saat ini) untuk suatu spekulasi (Dzon).
Boleh berspekulasi, namun bertawwakallah pada Alloh. Atau Istikhoroh dulu.
7. Bila No 1-6 belum dapat/belum ketemu, maka kamu harus menekan pengeluaran seminimal mungkin (di luar kebutuhan² daruratmu).
Karna pada rumusnya, PEMASUKAN ITU ADA 2 :
1. Bila kamu tidak bisa/belum bisa menambah pemasukan, MAKA...
2. Kamu harus menekan pengeluaran/biaya/cost-nya.
8. HENDAKNYA....
Perbanyak pemasukan dan Perkecil pengeluaran/biaya/cost-nya.
** Termasuk pengeluaran² yg sifatnya cuma nuruti kesenengan.
Semisal Piknik, kumpul² gak jelas, self reward, dan lain sebagainya.
✍️ No 8 ini terkesan egois, namun langkah ini harus kamu ambil untuk menstabilkan keuanganmu.
9. Sederhanakan/Efisiensikan Taraf Hidup/Biaya Hidup.
Lebih mengedepankan fungsi daripada sekedar nama dan gaya.
- Sama² mobil, cukuplah mobil pickup.
- Sama² motor, cukuplah motor supra.
- Sama² hape, cukuplah hape pasaran.
- Sama² rokok, cukuplah rokok biasa.
- Sama² Lauk, cukuplah lauk seadanya.
- Sama² Rumah, cukuplah rumah sederhana.
Mungkin itu dulu, bila ada penambahan, post akan diupdate.