Kisah Sahabat Tsa'labah yang masyhur saat ketika Tsa'labah memohon pada Nabi S.A.W agar didoakan supaya diberi kekayaan Dunia (harta), oleh Para Guru Hikmah mengungkap, ternyata memunculkan banyak sekali hikmah yang bisa dipetik sebagai panduan dalam menjalani kehidupan di Dunia ini.
Perlu diketahui, Tsa'labah ini bukan Tsa'labah min ahli badrin (bukan tsa'labah yg ikut perang badar dan perang uhud), akan tetapi Tsa'labah Ibn Hathib yang termasuk group pembangun Masjid Dhiror (Masjid yg didirikan utk menyaingi Masjid Quba Madinah saat itu).
Jadi ada 2 Tsa'labah. **
- Sama-sama Sahabat Nabi (krn pernah bertemu langsung dgn Nabi dan beriman).
Minta kaya, kalau sudah kaya-banyak harta bisa fokus ngibadah. Minta kaya, kalau sudah kaya-banyak harta, bisa banyak membantu-bersedekah.
Orang fakir-miskin akan dibantu. Masjid Sekolah Pondok Pesantren akan dibantu.
Tapi apa yang terjadi? Triple Zonk.
Ia sibuk dengan hartanya, Ia lupa akan janjinya, Ia lupa akan ibadahnya, hingga pada titik ia diadzab dengan Kemunafikan.
Dawuh Ibn Mubarok R.A :
"Barangsiapa dengan sengaja mancing-mancing masuk-memasuki arena-arena fitnah, maka ia tidak akan selamat meski ia seorang mujahid".
~ Mawaidz Ibn Mubarok.
2. Bab Adab Seorang Murid Pada Guru Mursyidnya.
Seorang murid harus selalu patuh dengan Mursyidnya. Itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang murid (suluk).
** Bila kamu sudah niat bersuluk dan sudah menemukan guru (mursyid) yang kamu percayai, lebih-lebih gurumu itu (sudah kamu percayai) bahwa ia seorang Wali atau seorang Mursyid Kamil Mukammil, Maka kamu wajib patuh pada gurumu.
Karna seorang Mursyid yang sudah Kamil Mukammil itu lebih tahu Aqibatul Umur (akibat yang akan terjadi di masa depan).
Bila tidak? Bila tetep ngeyel?
Maka biasanya guru itu akan membiarkan (dikabulkan permintaannya tapi risiko tanggung sendiri).
"Sudah dibilangin, sudah dinasehatin tapi ga patuh. Ya sudah, risiko tanggung sendiri".
Dawuh Ibn Abad R.A : **
"Kepatuhan (para murid suluk pada gurunya) itu lebih diutamakan (lebih dibutuhkan) daripada kepintaran".
Artine, Belajar (memasuki) ilmu suluk ga pinter (ga menguasai berbagai ilmu), gapapa, asal ia mau patuh pada gurunya.
Bisa ilmu sholat, bisa ilmu muammalah (bekerja-bermasyarakat) yg bener itu sudah cukup. Gausah pandai nahwu, shorof, ilmu aneh-aneh, ga masalah, asal gelem manut karo gurune.
** Mawahib Ghaitsul Aliyyah, Juz 1 Bab Adab-Adab Murid.
3. Bab Zakat.
Bila sudah sampai nishob zakat, maka sebaiknya (wajib) segerakan untuk menunaikan zakat.
Kalau bisa, berzakatlah dengan yang terbaik dari apa yang kamu punya, insyaAlloh menambah barokah pada hartamu.
Zakatnya lebihkan, jangan pas-pasan.
4. Menepati Janji.
Tepatilah janjimu, terlebih janji yang sudah kamu lafadzkan, apalagi sudah kamu ikrarkan atas nama Alloh di depan publik.
5. Hukuman Bagi Orang Yang Suka Berjanji-Ikrar Atas Nama Alloh Tapi Ga Menepatinya.
Jangan suka berikrar janji, apalagi janji-ikrar atas nama Alloh di depan publik.
Karna sudah diikrarkan tapi ternyata gabisa menepati (ingkar), maka ditakutkan diadzab munafiq dalam hatinya yang berakhir Su'ul Khotimah. Naudzu Billah.
Makanya, jangan suka berjanji.
Bila terpaksa berucap, pasanglah "In Syaa Alloh".
Sesuai dgn Hadist Nabi :
إن الله عفا عن أمتي ما حدثت نفوسهم ولم يتلفظوا به
"Sungguh Alloh memaafkan apa-apa (entah janji atau keinginan-keinginan buruk) yang terbersit dalam hatinya selagi ia belum melafadzkannya (mengamalkannya) (apalagi berikrar di depan publik)".
6. Bab Syukur-Qona'ah-Rizqi.
Dalam kisah, Nabi S.A.W dawuh :
"Sedikit tapi bisa kamu syukuri itu lebih baik daripada banyak tapi kamu gak mampu memenuhi hak-haknya".
Seperti yang sudah jadi Syari'at, bahwa mempunyai harta banyak itu banyak juga hak dan kewajiban yang wajib ditunaikan. Di antaranya :
- Zakat.
- Sedekah.
- Membantu yang membutuhkan.
- Berjuang dgn hartanya.
- Tidak boleh ngaku-ngaku.
- Tidak boleh pamer-sombong-ujub, dlsb.
- Tidak boleh melalaikan ibadah krn ngurusi hartanya.
- Tidak boleh menggunakannya utk maksiat.
Dan kebanyakan orang (kebanyakan sifatnya nafsu/manusia) itu ga kuat kalo ketempelan harta banyak.
Sedang kalo harta sedikit itu..
- Gampang dapat petunjuk
- Gampang menerima nasehat.
- Gabisa pamer-sombong.
- Ga terkena kewajiban zakat-sedekah.
- Terhindar dari banyak Madhorot.
7. Ciri Ulama' Akhirat.
Bisa untuk Membedakan-Perbedaan antara Ulama Dunia, Ulama Calo Dunia, Ulama Akhirat.
- Ulama Dunia.
Keilmuan Akhiratnya dibuat senjata untuk meraih Dunia, Tujuan Dunia.
- Ulama Calo Dunia.
Keilmuannya Akhiratnya sering dibuat perantara oleh pengikutnya untuk meraih Dunia.
** Orang sowan pingin kaya, dikasihlah amalan-amalan biar kaya.
- Ulama Akhirat.
Keilmuan Akhiratnya dibuat senjata olehnya dan para pengikutnya untuk meraih Akhirat.
** Orang miskin sowan minta kaya, malah diajari logika-logika untuk sabar, qana'ah, ridho pada takdir Alloh. Akirnya yang sowan dalam keadaan apapun takdir Alloh bisa sabar menerima.
** Dengan keilmuannya, Cahaya ma'arif logika-logika Ketuhanannya, Keimanan dan Keyakinannya, Ulama Akhirat bisa membuat kaya pengikutnya tanpa DUET.